share ur story, ur world, ur love !

Author Archive

[Resensi Novel – ToBa Dreams] Ketika Cinta Mengubah Segalanya

Cover ToBa Dreams

Judul novel: ToBa Dreams

Penulis: TB Silalahi

Penerbit: PT Kaurama Buana Antara

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 260 halaman + cover

Cover: soft cover

Harga: Rp 49.500,-

Seorang penulis asal Belitung, Andrea Hirata, pernah mengatakan dalam bukunya, Sang Pemimpi, “Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.” Kalimat tersebut menjelaskan betapa mimpi merupakan salah satu bagian esensial dalam hidup. Mimpi merupakan tenaga penggerak kehidupan yang bahkan terasa seperti nyawa bagi manusia hidup, seperti kalimat yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam bukunya, “… tanpa mimpi, orang-orang seperti kita akan mati”.

Namun, bagaimana jika mimpi itu menjadi sulit untuk diwujudkan? Bagaimana jika mimpi menjadi tidak sesuai dengan kemampuan manusia untuk menggapainya? Bagaimana jika ternyata mimpi mengubah segala kehidupan justru semakin buruk?

ToBa Dreams karya TB Silalahi menceritakan semuanya.

Novel dengan desain cover yang menarik ini cukup unik menghadirkan kisah-kisah di dalamnya. Cerita bermula dari kehidupan seorang sersan berdarah Batak yang keras, tangguh, dan disiplin bernama Tumpak Bonar. Sejak belia, ia lebih dikenal dengan sebutan Tebe. Sesuai judul novel di atas, Sersan Tebe yang kemudian pensiun dari kemiliteran TNI merasa terpanggil dengan tanah kelahirannya, Batak Toba. Ia merasa harus mengabdi pada masyarakat, membuat hidupnya menjadi lebih berarti di kampung halamannya. Sayangnya Ronggur, menentangnya terang-terangan. Tidak seperti dua saudaranya yang lain—Taruli dan Sumurung—yang meski agak berat meninggalkan Jakarta, mereka tetap patuh pada ayahnya. Sejak awal, hubungan mereka memang kurang baik. Meski sempat ikut pulang ke kampung halaman ayahnya ke Tarabunga karena permohonan Kristin, ibunya, Ronggur pada akhirnya kembali ke Jakarta untuk menjalani pilihannya sendiri.

Sersan Tebe sebagai seorang ayah yang mencintai anak-anaknya dengan mendidik mereka dengan keras, ingin mewujudkan mimpinya yang sempat menjadi mimpi ayahnya: masuk ke Akademi Militer (Akmil). Mimpinya memenuhi segala harapannya pada Ronggur, anak sulungnya. Sedangkan Ronggur yang menganggap ayahnya sangat otoriter, merasa memiliki jalan hidupnya sendiri, tanpa harus diatur oleh ayahnya. Apalagi Andini, kekasihnya, telah ia janjikan untuk pertemuan selanjutnya di Jakarta. Selain ayahnya, Andini-lah alasan Ronggur sangat bernafsu mengejar mimpinya, yang berbeda dari mimpi ayahnya: sukses dan kaya. Hidupnya tak perlu lagi dikasihani karena keluarganya yang miskin dan ayah Andini tak akan lagi memakinya karena perbedaan strata mereka. Ronggur hanya ingin membuktikan, bahwa jalan hidup yang ayahnya pilih selama ini salah, dan ia bisa menjadi sukses tanpa menuruti keinginan ayahnya.

Mulanya, Ronggur masih kebingungan bagaimana mencari uang; mencari kesuksesannya. Hingga sebuah tawaran datang dari seorang bos mafia narkoba dan hinaan yang dilontarkan ayah Andini membuatnya berbelok menjalani kehidupan yang dia sendiri tak sudi. Menjadi pengedar narkoba tak pernah menjadi pilihannya. Namun demi mendapatkan Andini, ia harus melalui jalan ini. Kemudian, setelah Ronggur baru saja menikmati hidupnya karena kebahagiaan, cerita menjadi semakin kompleks. Pilihan-pilihan yang harus Ronggur hadapi menjadi semakin sulit dan menjebak. Ia tak mungkin melepaskan keluarga kecilnya, namun ia tak ingin terus menerus berada dalam lingkaran setan geng mafia-nya. Di saat itulah, pembaca akan semakin penasaran dan akan terus mengikuti cerita sampai akhir. Ketegangan yang tersaji dalam cerita akan membuat pembaca betah membaca buku ini berlama-lama sampai tuntas.

Novel ini memiliki jalan cerita yang runut, detail, beralur maju dan enak diikuti. Sayangnya, penekanan konflik beda-agama yang dialami pasangan Ronggur-Andini saat masih menjadi sepasang kekasih tidak terlalu dipermasalahkan oleh keluarga Andini. Ayah Andini justru lebih menekankan perbedaan strata kehidupan mereka. Begitu pula dengan ayah Ronggur, yang mulanya tidak menyukai hubungan mereka, namun ayah Ronggur bersyukur saat mereka menikah dan merasa beruntung Ronggur mendapatkan seseorang seperti Andini. Setelah menikah, bisa dimaklumi jika ayah Ronggur kemudian tidak mempermasalahkan agama, karena sudah terbiasa menghadapi perbedaan dalam kesatuan militernya dan tidak menginginkan terjadinya perceraian yang akan menyengsarakan cucunya.

Kertas yang digunakan untuk novel ini merupakan kertas buram, sehingga tulisan pada beberapa lembar halaman terjiplak di belakang kertas dan mengganggu pembaca saat membaca bagian tersebut. Namun, karena kertas tersebut tergolong ringan, novel ini menjadi nyaman dibawa kemanapun. Ketebalan novel tak menjadi masalah karena membawa novel ini tak menjadi beban tersendiri.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah istilah-istilah dalam cerita yang mungkin terlewatkan oleh penulis yang tidak diberi catatan kaki. Istilah-istilah tertentu sudah dijabarkan dengan baik keterangannya dalam catatan kaki, namun beberapa istilah lainnya belum, sehingga jika tidak tahu artinya pembaca menjadi sedikit bingung. Meski begitu, pembaca akan menyukai novel ini karena pembaca akan banyak mengetahui budaya Batak dan sedikit kehidupan militer. Pembaca tidak akan menyesal setelah membaca novel ini, terutama setelah ayah Ronggur berteriak mendekap tubuh Ronggur dan Ronggur membuat semacam pengakuan cinta dari seorang anak pada ayahnya saat mendekati akhir cerita.

Kemudian, pembaca akan melihat Indonesia yang ‘Indonesia’ dalam buku ini. Keindahan alam Toba yang diceritakan, budaya Batak yang masih bertahan, toleransi beragama yang memahami bahwa di Indonesia tidak hanya memiliki satu agama, dan pesan-pesan moral yang menakjubkan. Pembaca akan mendapatkan banyak pesan moral dari novel ini: (1) Seorang ayah, betapapun kerasnya, memiliki ruang dalam hatinya untuk menyimpan cintanya pada anaknya. Setiap ayah memiliki cara yang berbeda dalam menyayangi dan mendidik anak-anaknya, (2) Bahayanya obat terlarang. Sekali saja kita mencoba masuk ke dalam dunia itu, kita tak akan pernah kembali pulang selamanya. Oleh karena itu, lebih baik dari awal kita menjauhinya, kemudian (3) Mimpi memang harus diusahakan untuk tercapai, tapi bukan dengan jalan yang salah. Jika salah jalan, maka mimpi kita justru akan membawa kita ke dalam keterpurukan.

Begitulah ulasan singkat mengenai novel ToBa Dreams. Buku ini sangat layak untuk dibeli dan dibaca. Selamat menikmati buku ini dengan sepenuh perasaan! :grin:


Nggak butuh kamu. Kamu bukan sesuatu yang selalu ada saat aku butuh.
Nggak butuh dia. Dia bukan sesuatu yang bisa membantu sama sekali..
Nggak butuh bahu siapapun untuk bersandar. Nggak.
Aku cuma butuh Tuhan, yang bahkan mendengar saat aku tak sanggup bicara.

View on Path


“How can we be so different and feel so much alike?”

View on Path


Kangen kalian pleton 4 sepelatih-pelatihnya. Pake banget.
Biasanya jam segini lagi apa kita? Hahaha

View on Path


Akhir dari pemilihan kepsek RUSA yang baru. Wooohoooo~

View on Path


Baik-baik ya, badan. Bersahabatlah dengan keadaan yang menuntut kesehatanmu.
Bersekongkol-lah dengan pikiran yang membuatmu kuat.
SEMANGAT!

View on Path


Perjuangan yang layak ditunggu, dari kamu.

Kamukah “kamu”-ku?
Semoga.

View on Path


Doa. Ikhtiar.

View on Path


Hari terakhir di Cianjur, jejalan trus mampir sini ^^ – with Budi and Faradila at Masjid Agung Cianjur

View on Path


Duhdek, kamu cantik. Kakak suka.

View on Path


Yeah, i’m a silviculturist. Of course i’m a forester! – at kph cianjur

View on Path


Mari sini, biarkan matamu bercerita padaku.

View on Path


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,001 other followers