share ur story, ur world, ur love !

Segala Hal Tentang Nikah: Nggak Ribet, Kok!

Entah kenapa belakangan ini jadi posting tentang nikah-nikah mulu. Oke maaf. Aku gak bermaksud bikin baper blogger sebelah *nyengir*. Tapi maaf, really sorry (khususnya buat yang masih sendiri)karena ini terpaksa kutulis karena beberapa orang selalu bertanya-tanya tentang segala hal terkait masalah ini (kebanyakan sih, karena pengen nyusul tapi bingung). Ada yang nanya langsung, ada yang nun jauh disana sampai nelpon, ada juga yang nanya soal ini via chat.

kalau cewek maksa nikah

Sooooooo… tulisan ini kubuat untuk mereka (dan kalian) yang pengen tahu tentang nikah, mulai dari lamaran/khitbah, seserahan, mahar/mas kawin, akad nikah, i’lan/pengumuman nikah sampai masalah rezeki untuk menafkahi istri setelah menikah.

Sebagai pembuka, aku kutip hadits nabi yang bikin adem ini.

Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya wanita yang membawa berkah yaitu jika ia mudah dilamar, murah maskawinnya, dan subur peranakannya.” (HR. Ibnu Hibban, al-Hakim, dan lain-lain)

 

1. Tentang Lamaran/Khitbah

Sebenarnya, belum ada hukum yang pasti tentang khitbah ini. Mayoritas ulama mengatakan khitbah itu mubah. Namun sebagian ulama lain mengatakan lamaran/khitbah ini hukumnya sunnah.

Biasanya, pihak laki-laki melamar seorang wanita melalui keluarganya atau orang yang dihormatinya (disampaikan oleh orang tua laki-laki atau orang lain yang dipercaya kepada pihak wanita). Tapi, jaman modern gini kayaknya udah banyak ya, laki-laki yang berani berhadapan langsung dengan orang tua calon istrinya 😀

Kalau pengalamanku, dulu Mas Superman nelpon abi buat ‘minta’ aku. Itu terpaksa nelpon karena hambatan yang ada belum bisa membuat mas datang ke rumah. Alhamdulillah maksud baik mas juga disambut baik sama abi. Setelah itu abi tanya aku dan aku jawab “iya”… (balik lagi ke hadits di atas, wanita yang bawa berkah itu yang mudah dilamar 😉 hehe)

Masyarakat umumnya mengadakan acara lamaran sebagai bentuk etika (sudah jadi bagian dari adat kan ya?). Sebenernya sih, itu tergantung adat kita masing-masing ya 🙂

Kalau pengalamanku (lagi), kami mengadakan acara lamaran (yang semi-formal) menjelang H-1 akad nikah. Keluarga Mas Superman menemui keluargaku di Jogja dan menanyakan lagi kesiapan pihak wanita. Disitu, aku ditanya mau dan siap atau nggak untuk menikah dengan Mas Superman. Yaaaa, jawabannya sudah tahulah ya. Jadi bukan hanya abi atau mas aja yang tahu kalau aku mau dan siap. Tapi juga keluarga Mas yang datang.

Nah, ada yang menganggap bahwa acara ini sama dengan bertunangan. Sebenarnya itu beda. Budaya barat melakukan prosesi tunangan dengan tukar cincin, untuk mengikat pasangan dan menandakan mereka akan menikah. Kalau khitbah atau ngelamar sih, sebenarnya gak usah pakai tukar cincin. Aku juga jadi agak bingung sih kalau begini. Kemarin gak mau begini karena gak mau menyulitkan keluarga dan keluarga pasangan 🙂

 

2. Haruskah Ada Seserahan/Hantaran?

Seserahan ini merupakan simbol tanggung jawab calon pengantin laki-laki pada pihak wanita. Barang seserahan sepenuhnya dari pihak laki-laki untuk pihak wanita sebagai wujud bahwa dia sudah sanggup mencukupi kebutuhan si wanita.

Lagi-lagi, ini kembali ke adat masing-masing. Seserahan atau hantaran itu nggak wajib, kok. Ini juga tergantung kepada pihak wanita, mau ada seserahan atau nggak?

Untuk acaranya sendiri, biasanya ada yang ngasih seserahan ini pas lamaran, atau ada juga yang sehari sebelum pernikahan. Kalau adat Jawa biasanya sih malam sebelum pernikahan 🙂

Berkaca pada pengalamanku, aku gak minta seserahan sih, sama mas. Tapi waktu acara lamaran (yang semi-formal itu :mrgreen:) ternyata mama mas bawa alat sholat untuk calon mantunya ini :”)

 

3. Bagaimana dengan Mahar/Mas Kawin?

Mahar atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai mas kawin, adalah sesuatu yang WAJIB diberikan suami untuk istrinya berdasarkan kesepakatan. Banyaaak yang bilang kalau mas kawin ini syarat sahnya nikah. Ternyata salah. Gimana ya bilangnya. Bukan syarat sah, tapi juga bukan bagian rukun nikah. Tapi ini emang wajib dipenuhi. Lah jadi gimana???

Mahar itu hak seorang istri. Mahar dibayar oleh suami sebagai tanda ‘dibelinya’ cinta yang tulus. Intinya sih, mahar ini harus dibayarkan sebagai bentuk ketulusan suami untuk menghargai wanitanya. Ada yang bilang, mahar ini adalah upah untuk dapat menggauli istrinya secara sah/halal. Gimana ya jelasinnya? Ya gitu kali ya, mahar sebagai bentuk penghargaan…

Beda sama seserahan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan yang bisa dinikmati/dipakai bersama (misal parfum, handuk, dll), mahar ini gak boleh dinikmati berdua (nantinya). Cuma istri yang punya hak sepenuhnya atas mahar dari suaminya. Suami (atau bahkan keluarga istri) gak boleh pinjem/pakai mahar itu. Kalaupun suatu saat maharnya dijual, suami/keluarga istri gak boleh ikut menikmati hasilnya. Kecuali si istri sudah ridha atas itu.

Trus, mas kawin dan cincin kawin itu sama gak?

Jawabannya: BEDA.

Cincin kawin itu, belum tentu mahar atau mas kawin.

Tapi mahar yang diberikan seorang suami, bisa saja berupa cincin kawin.

Back to my story, mahar yang aku terima dari Mas Superman kemarin adalah cincin kawin. Jelaaaas, cuma cincin kawin yang punyaku. Punya dia jelas gak masuk hitungan.

Bingung?

Jadi gini. Aku kemarin beli satu cincin emas putih dan satu lagi cincin perak. Cincin emas itu adalah mas kawin yang nantinya bakal mas kasih buat aku (juga buat cincin kawinku ya), dan cincin perak itu adalah cincin kawin mas. Kenapa perak? Karena kami meyakini, laki-laki dalam Islam gak boleh pakai perhiasan dari emas.

Mana yang disebut mahar? Mana yang disebutkan saat ijab qabul?

Cukup cincinku aja. Cincin Mas Superman ga usah. Kan, dia ga boleh ikut pakai mahar yang dia kasih 🙂

Nah, buat para wanita yang baca ini, sebaiknya jangan terlalu ribet minta mas kawin-nya ya. Jangan yang susah-susah dan memberatkan calon suami. Gak baik. Ingat hadits di awal tadi. Wanita yang membawa berkah itu, yang murah mas kawinnya 😀

Oh iya. Ada tambahan. Untuk yang bertanya kenapa alat sholat itu mas berikan saat seserahan dan bukan sebagai mahar.

Jawabannya, karena orang tuaku gak mau. Beraaaat.

Ini juga mungkin karena kalau pihak laki-laki memberikan mahar seperangkat alat sholat (dan juga Al-Qur’an), maka nantinya sang suami harus benar-benar menjaga sholat (dan juga ngajinya–kalau sama Al-Quran) sang istri. Kalau istri lupa/gak sholat 1 kali saja, maka suami juga berdosa dan lebih berat. Ingat, istri jadi saksi saat mahar itu diberikan dan diucapkan oleh suami. Tanpa itupun, suami memang berkewajiban menjaga keluarganya untuk tetap berada di jalan yang benar, kan?

 

4. Bagaimana Baiknya Setelah Akad Nikah?

Lamaran udah. Persiapan udah. Besok udah akad nikah aja. Hmm. Pasti deg-degan.

Buat para wanita, tenanglah. Buat diri kalian setenang mungkin sebelum acara sakral ini. Aku yakin kalian bakal deg-degan banget menjelang akad. Khawatir sama calon kalian sendiri. Takut gak lancar dan lama pas ijab-qabul. Takut nanti jadi gak fokus. Takut nanti salah tingkah. Takut ini, takut itu…

Tenang ya. Belajarlah percaya sama laki-laki yang kelak jadi suamimu. Yaaah, meskipun aku juga deg-degan sih pas acara ini hahaha. Tapi yakinlah bahwa acara kalian lancar. Semua bakal baik-baik aja dan gak ada yang perlu ditakutin. Serius.

Buat para laki-laki yang baca ini (dan sedang menyiapkan diri), belajarlah rileks. Jangan mikirin yang gak seharusnya dipikirin. Biarin aja ngalir. Berdoa semalem sebelumnya, minta kelancaran dan kemudahan sama Allah SWT. Yakin deh, semuanya bakal lancar.

Setelah akad, kalian resmi jadi suami-istri. Kagok? Iyalah pasti 😆 . Canggung? Salah tingkah? Itu udah wajar kok buat pasangan baru. Pasti ngerasa asing dan aneh kalo udah selalu berdua :)))))

Baiknya setelah akad ini, diadakan i’lan/pengumuman nikah. Apa itu? Next tentang ini di penjelasan berikutnya 😉

 

5. I’lan/Pengumuman Nikah

Pengumuman nikah ini adalah bentuk pemberitahuan kalau kalian sudah sah menjadi suami-istri. Menurut sumber, ada 3 bentuk i’lan nikah ini. Pertama, khutbah nikah. Seharusnya dilakukan sebelum akad dan jangan terlalu lama (karena akan melangsungkan akad nikah). Tapi kebanyakan di Indonesia ini khutbah nikah dilakukan setelah akad.

Kedua, hiburan. Jaman Rasulullah dulu hiburan yang dimaksud ini bentuknya seperti nyanyian dan rebana. Lah, bukannya kayak gitu gak boleh? Boleh kok. Selama itu hanya dijadikan hiburan semata dan dilakukan sewajarnya (setelah akad).

Ketiga, walimah/resepsi nikah. Sejarahnya, walimah ini adalah jenis makanan yang disajikan dalam pesta pernikahan. Seiring waktu, walimah disejajarkan maknanya dengan resepsi atau pesta pernikahan. Nah, resepsi ini baiknya dilakukan secepatnya setelah akad (jangan sebelum akad ya). Kalau bisa besoknya. Kenapa? Karena resepsi ini adalah bentuk mengumumkan pernikahan. Pengumuman lebih cepat lebih baik. Biar gak ada fitnah, gitu. Menurut sumber, resepsi yang ditunda sampai berbulan-bulan karena pengen meriah, itu gak baik dan hukumnya yang tadinya sunnah bisa berubah jadi mubah. Tapi kalau ada kendala seperti masalah adat atau yang lainnya, sah-sah aja menunda dulu resepsinya.

Berkaca ke pengalamanku kemarin setelah akad bulan Mei, sebenarnya kami sudah mendengarkan khutbah nikah (itu bentuk i’lan juga ‘kan?), tapi tetap mengadakan resepsi nikah bulan Desember. Kenapa resepsi dan akadnya jauh sekali jarak waktunya? Itu dilakukan karena beberapa pertimbangan.

Pertama, aku sudah harus penelitian dalam waktu cepat dan butuh teman (ehem) untuk ke hutan. Jarak kosan dengan hutan lokasi penelitian lumayan jauh dan harus naik motor. Sedangkan aku gak bisa naik motor 😦 Satu-satunya yang bisa nemenin aku yaaa cuma Mas Superman karena teman-teman yang lain juga harus fokus sama penelitiannya. Aku gak mungkin minta anter tiap hari sedangkan aku bukan siapa-siapanya kan?

Kedua, pesan gedung untuk hari H resepsi butuh waktu lama dan antriannya panjaaaang. Sepupuku juga nikah bulan November. Jadi ga mungkin diadakan di bulan yang sama atau mendahului karena dia udah lebih lama merencanakan pernikahannya. Jadilah aku Desember aja (antrian gedungnya juga dapetnya bulan Desember. Malem lagi 😦 ).

Ketiga, kalau aku nunggu pelaksanaan akad nikah Desember (biar bisa resepsi besoknya), berarti aku juga harus nunda penelitian atau aku harus berangkat sendiri. Jauh maaak. Aku gak sanggup 😦 Jadilah aku akad nikah duluan.

Keempat, teman dan kerabat yang diundang banyaaak. Abi ummi (juga aku dan mas) punya teman dan kerabat yang banyak dan butuh waktu untuk sebar undangan yang orangnya ada dimana-mana.

Karena memang kendala-kendala itu, akhirnya jadilah aku akad nikah di bulan Mei dan resepsi di bulan Desember. Sebenarnya gak resepsi juga gapapa sih. Cuma yang tahu belum banyak, karena gak mungkin semuanya diundang waktu akad (yang cuma di KUA). Di kampus atau sekitar rumah pun, kalau ada yang nanya tentang status, ya bilang kalau kami sudah menikah, tapi belum resepsi.

 

6. Jangan Takut Kekurangan Rezeki Pasca Nikah

Hmm. Ini nih yang bikin sensitif, terutama para laki-laki. Bahkan seorang teman yang kemarin nelpon pun galau karena ini, padahal dia sudah bekerja.

Jangan takut. Semua sudah diatur sama yang diatas.

Kalau kamu nunggu mapan, kamu yakin gajimu bisa kamu tabung sampai cukup untuk nikah? Yakin gak akan hura-hura foya-foya?

Kalau kamu nunggu punya kerja, yakin, Allah cukupkan rezeki-Nya untukmu?

Jangan takut. Ingat, Allah Maha Kaya. Allah akan limpahkan rezeki untukmu. Masih ingat janji Allah dalam Al-Qur’an?

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. an-Nur [24]: 32)

Kalau Allah sudah berjanji, gak mungkin diingkari. Jangan samakan dengan makhluk-Nya yang suka lupa kayak kita ini.

Allah itu Maha Keren…

Gini, deh. Kalau aku cuma ngomong kayak gitu, mungkin semua orang juga bakal susah buat ‘tergerak’.

Jadi, kembali lagi ke pengalamanku.

Aku menikah dalam keadaan mas sudah bekerja, di sebuah kantor konsultan di Bogor. Setelah kami menikah, ada sesuatu hal dan mas terpaksa berhenti kerja. Dia akhirnya kembali mengajar les anak SD-SMP di hari dan waktu tertentu. Jangan tanya soal gaji. Jelas, gajinya lebih kecil dibanding kantornya dulu. Selama itu juga, dia freelance lagi sama dosennya. Kalau ada proyek berangkat, kalau nggak ya di rumah. Pemasukan kalo lagi ada ya alhamdulillah, kalo lagi gak ada ya pake uang tabungan…

Aku sendiri, untuk uang kuliah, masih ditanggung orang tua sampai lulus nanti. Sebelum nikah sudah ada semacam perjanjian kalau abi masih mau nanggung biaya pendidikanku. Itu juga alhamdulillah.

Mas dalam masa nganggur (maksudnya gak kerja kantoran–kebanyakan orang kan mikir ‘kerja’ itu ngantor), kurang lebih 4 bulan. Dan itu masa nganggur terlama dia setelah selama ini. Dulu jaman-jaman selesai kuliah paling lama 2-3 bulan udah dapet kerja.

Mungkin dia mulai khawatir waktu aku mulai hamil…

Ga disangka, alhamdulillah banget, mas diterima kerja di sebuah perusahaan BUMN, dengan posisi kerja yang cukup lumayan setelah itu. Kami yakin, rezeki nggak kemana. Yah, meskipun dia harus ditempatkan di kota yang jauh dan pulang dua bulan sekali. Sudah Allah tetapkan bagian kami, juga bagian anak-anak kami nanti. Alhamdulillah, meskipun agak sulit, kami menjalani hidup kami dengan bahagia. Yang penting bersyukur dan tetap berusaha.

Jadi, buat yang pengen nikah tapi nunggu mapan, coba diubah mindsetnya. Buat yang lagi nyari kerja tapi pengen nikah, jangan ragu untuk menikah. Barangkali ketemu rezekinya setelah itu 🙂

 

*Notes: Maaf ya kalau postingan kali ini agak berat dan panjang. Demi kebaikan ummat. Hehe

Advertisements

44 responses

  1. dulu aku pernah mikir, kalo mas kawin itu sebagai harga yang dikasih dari si cowok #parahbangetya maklum belum ngerti hehe
    salam kenal ya kak ^^

    December 27, 2016 at 14:41

    • tapi ada yang emang gituuuu, serius. jadi kadang si cewek ngasih “harga” tinggi buat dibayar sama si cowok. tapi klo gitu kadang suka kasihan sama cowok yang gabisa penuhin syarat itu dan malah jadi gagal nikah 😦

      salam kenal jugaaa Ami. Thanks for visit 🙂

      December 29, 2016 at 15:20

  2. Bang Ical

    Itu kalimat “khususnya yang masih sendiri” jangan dicoret Kak, terusin aja, terusin 😂

    December 27, 2016 at 14:57

    • gue suka gaya lo baaaang wkwk

      December 27, 2016 at 16:40

      • Bang Ical

        Nyesekin dada ya Gik 😂

        December 27, 2016 at 17:00

      • gada maksud lho bangcal, mbakgik 😦
        wkkkk

        December 29, 2016 at 15:22

      • Bang Ical

        Wkwkwkwk 😂

        December 29, 2016 at 17:54

  3. Gatau harus seneng ato sedih baca ini 😢😢😂😂😂

    *msih tersisa stok baper dari episod kemaren😂😂

    December 27, 2016 at 15:06

    • dibikin hepi ajaaaaa 😀

      December 29, 2016 at 15:22

      • Wokidokii

        December 29, 2016 at 15:26

  4. wah, info bagus nih

    nuhun

    December 27, 2016 at 16:54

    • siaaap mas

      December 29, 2016 at 15:26

  5. Semakin riweuh nih di dalam otak ku. . . 😥😨😪

    December 27, 2016 at 17:52

    • jangan dibikin riweuh val. relax 🙂

      December 29, 2016 at 15:27

      • Riweuhin aja dulu, supaya ntar pambaca (yang ngejalanin) bisa lebih mudah ngambil keputusan setelah banyak pertimbangan . . . ha ha ha ha

        December 29, 2016 at 16:07

      • -_-

        December 29, 2016 at 16:09

  6. Huaaaaseeem jadi inget rencana dulu… Pas tiba waktunya mlempem deh. Sepertinya ada yang lebih penting daripada tetek bengek (gak bermaksud menyepelekan) diatas; kesiapan lahir batin. Hemmmm

    December 27, 2016 at 22:00

    • lah maaf lho mas, maafin 😥
      wkkkkk sengaja 😀
      tapi bener, emang diatas semua itu, harus siap mental dulu heheheh

      December 29, 2016 at 15:29

  7. Dari kemarin tulisannya buat baper terus yaa vir 😳

    December 28, 2016 at 00:21

    • gak maksud mbak, serius 😦

      December 29, 2016 at 15:30

  8. Ata

    Lengkap bangeeeeet! 🙂 thanks for sharing Vir.
    Aku akan selalu berpedoman pada hadist di atas yang tentang murahnya mahar. Ga mau memberatkan calon suami, yang entah ini masih nyangkut di mana yaaaa hihi

    December 28, 2016 at 12:55

    • semoga lekas dipertemukan hihihi
      aamiinn :DDD
      thanks kunjungan baliknyaa mbak ataaa :*

      December 29, 2016 at 15:32

  9. Whoaa… ini sih harus dibookmark wkwk.. Penasaran kapan kamu tahu pengetahuan ini semua. Walaupun belum nikah, menurutku ini nggak bikin baper kok. Toh semua pasti ada waktunya haha *pembelaan menyedihkan*

    Baru tahu juga konsekuensi alat shalat dijadikan seserahan atau mas kawin. Apa memang berbeda seperti yang Vira tuliskan?

    December 29, 2016 at 13:55

    • del aku ngakak del 😦
      maaf del aku ngetawain pembelaan menyedihkanmu del 😦
      hahahahaha
      aku juga ngakak pas ngetik itu del 😦
      *gimana ini gimana ini*
      kapan ya. entahlah hehe. belajar bab nikah sih udah dari sma. tapi kayaknya pengetahuannya berkembang dan mungkin yg dipelajari dulu ada yg lupa lupa inget :)))
      ada yang udah tau, ada yg baru tau menjelang nikah, ada yg hasil baca (dan kutulis yg kuinget). gitu kayaknya…
      yg ttg alat sholat sbg mahar itu blm kupastiin sebenarnya (nanti kalo kamu dapet kabar pastinya kabarin ya! biar bisa kuapdet hehe). banyak yg bilang gitu sih…

      December 29, 2016 at 15:46

      • -____________- Rapopo Vir. Beginilah konsekuensi ‘kami’…

        Jadi minat nyari tau juga yang masalah mahar itu. Btw apakah bijak mengkhitbah perempuan tanpa ada aba-aba terlebih dahulu? Jadi intinya memanfaatkan elemen surprise biar si perempuan kaget dan tak mampu menolak. Pernah dengar cerita begitu soalnya

        December 29, 2016 at 16:29

      • Bijak sekali bilang ‘kami’ utk mewakili yg lainnya juga :’)
        Kalau itu, entahlah ya, aku jg gapaham hehe.
        Tapi bukannya itu terserah laki-lakinya kapan mau mengkhitbah ya? jawaban dari khitbah kan, ga harus waktu itu juga. Jadi surprise/nggaknya kalo perempuannya belum jawab yaaa belum bisa mastiin kan? hahaha
        eh tapi ati-ati kalo mau maen surprise, pastiin doi emang blm dilamar yak del 😀
        kalo ngelamar, jgn ngelamar cewek yg ‘sedang’ dilamar ya del (mksdnya blm ada jwbn atas lamaran sblmnya/sedang dikhitbah), krn kan emang gaboleh ngelamar di atas lamaran orang. Laki-laki gaboleh ngelamar cewek yg udah dilamar kecuali dia UDAH nolak yg sebelumnya…

        December 29, 2016 at 16:40

      • Ya ya ya… i see…
        Tentang larangan menikung lamaran alhamdulillah sudah pernah baca hadits kalau perbuatan seperti itu haram. Jadi memang adu cepet intinya. Cepet2 siapin lahir-bathin, mental-fisik, sama cepet2 yakinin calonnya juga

        December 29, 2016 at 16:46

      • ahahaiiiii fadeeeelll…
        kalo jodoh ga akan ada yaang aambiiill..
        yah, meskipun jodoh adalah takdir yang bisa diusahakan 😀

        December 29, 2016 at 16:48

      • Hohohoho… entah kenapa jadi semangat lagi

        December 29, 2016 at 16:52

  10. Kontak-kontak ya beb kalau mau prewed 😉 Eh

    December 30, 2016 at 04:06

    • Nah! Ayooo bloggers sekalian, kontak mbak dewi yaaa kalo mau prewed hihihi
      Asiiik
      Eh tapi bener gapapa tuh mbak? Trus ntar ke Indonesia kalo gitu? Uwaaaah
      Tau gitu aku kemaren nghubungin mbakdew aja ya. Nyesel telat kenalnya 😦

      December 31, 2016 at 12:26

  11. nyessss bangettt bacanyaaa
    nikah membawa berkah ya mbaaa
    samara always, aminnn

    December 30, 2016 at 07:08

    • aamiin..
      makasih mbak innaaaa :*

      December 31, 2016 at 12:26

  12. wah mba thank banget ni infonya.. emang menikah itu harusnya ga boleh ditunda” ya mba keburu tua.. dan jika sudah balig menunda pernikahan itu kan ga boleh.. 🙂

    December 30, 2016 at 14:24

  13. nais inpoh mbaksis

    December 30, 2016 at 15:09

  14. Mbaak, suka banget sama tulisan ini. Sambil baca sambil flshback akunya. Terharu inget nikahan hehee.
    Thanks for sharing yaaa

    December 31, 2016 at 08:59

    • Iyaaaa, bener banget, suka terharu sendiri kalo inget nikahan huhuhu
      Terimakasih kunjungannya mbak alma ;D

      December 31, 2016 at 12:32

  15. Mayan lah baca ini abis makan siang, aku jadi semangat biar 2017 halal hahaha

    January 1, 2017 at 13:15

    • Asique mau nyusul 🙌

      January 8, 2017 at 10:00

  16. Wah, tulisannya modal buat lajang kayak aku ni, hehe … makasih mbak

    January 1, 2017 at 18:27

    • Hihihi. Alhamdulillah yaaah. Sama-sama 😊

      January 8, 2017 at 10:00

  17. Alhamdulillah baper,
    thanks ulasan inspiratifnya, Mbak..

    January 10, 2017 at 09:48

  18. I cannot tell a lie, that really hepeld.

    May 19, 2017 at 09:55

  19. George P. Lee’s death is sad because it reminds me today of my Indian placement foster brother. After high school graduation, he returned to the reservation. We lost touch as our lives went on. I tried to find him this year, and found out he drank himself to death in 2002, alone in the desert. He was full of good humor and life and we went everywhere together. Not having kept up with him is something I will always regret.

    June 1, 2017 at 01:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s