share ur story, ur world, ur love !

Rantau Ramadhan: Ekspedisi ke Sulawesi

Mudik. Keluarga. Kampung halaman.

Selalu tiga hal itu yang terpikirkan perantau saat liburan di bulan Ramadhan. Menikmati menenggelamkan diri dalam hiruk pikuknya mudik ke kampung halaman, demi bertemu keluarga di rumah. Kau tahu, hampir semua orang melakukan perjalanan pulang saat ‘libur’, kecuali kau terlalu jauh dari rumah dan uangmu terbatas untuk melintasi kota atau negara.

Aku, juga seorang perantau. Merantau sejak kecil, sampai kini aku mahasiswa. Aku lahir di Pulau Madura, untuk kemudian menempuh pendidikan TK-SD di Yogyakarta, menjadi siswa SMP dan SMA di (lagi-lagi) Madura, sampai menjadi mahasiswa di sebuah kampus di Bogor, Jawa Barat. Aku menjalani hidupku seolah-olah aku menyukai hidup jauh-jauh dari orangtuaku di Yogyakarta. Ah, kau kira aku bahagia hidup tanpa keluarga?

Memang, rasanya tidak begitu mudah saat berpisah pada mulanya. Tapi, di situlah kau akan menemukan arti keberadaan keluargamu saat kau jauh dari mereka. Hidupmu menjadi semakin luas, kenalanmu semakin banyak. Rasanya, menghubungi siapapun dimanapun menjadi lebih mudah dengan banyak relasi. Tapi sebanyak apapun temanmu, sebaik apapun sahabatmu, kau pasti akan rindu rumah. Apalagi kau sudah terlalu lama di tanah perantauan…

Seperti aku.

Mahasiswa rantau sepertiku juga butuh pulang. Apalagi ada kesempatan saat liburan Ramadhan. Tapi, tahukah bahwa jurusan yang kau pilih saat awal masuk kampus pada akhirnya dapat menjadi sebuah alasan besar bagimu tak pulang? Tidak bisa merasakan masakan ibumu saat buka puasa pertama?

Tapi, tak apa. Biarlah kerinduan mengembang merajai. Lagipula, kapan lagi aku bisa merasakan Ramadhan ini di tempat yang baru?

Ya. Sebagai mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB, aku punya tugas melakukan ekspedisi penelitian (EKSFLORASI) bersama kawan-kawan ke Sulawesi. Tempat yang baru bagiku, juga seluruh timku. Aku yang sudah merantau ke Bogor dari Yogyakarta sana, harus melangkah lebih jauh lagi keluar Pulau Jawa. Sulawesi, dengan segala eksotisme yang belum pernah aku lihat rupa eloknya.

Perjalanan dimulai dari Bogor, dengan menaiki kereta ke Surabaya pada hari ke-10 puasa Ramadhan. Seluruh tim EKSFLORASI, sebanyak 48 orang, belum ada yang pulang kampung. Kami puasa di Bogor selama menunggu keberangkatan. Tak terpikirkan perjalanan kami ke Surabaya harus menggunakan kereta, dengan segala peralatan yang banyak untuk keperluan penelitian. Belum lagi waktu yang lama dalam perjalanan, membuat kami begitu mudah lelah karena kami melakukan perjalanan saat puasa. Sampai di Surabaya, kami istirahat beberapa jam di stasiun, kemudian melanjutkan perjalanan ke Komando Armada RI Kawasan Timur (KOARMATIM) TNI AL. Untuk apa? Kami akan naik kapal perang Republik Indonesia. Sebut saja KRI kemudian.

Menurutmu, bagaimana rasanya puasa di KRI, berhari-hari bersama pasukan TNI, berada dalam kapal perang bersama senjata-senjata di dalamnya, digoyang ombak ke kanan-kiri? Hey, itu rasanya seru! Meskipun aku sendiri membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri di kapal dengan mabuk lautku yang tak keruan. Tapi kapan lagi aku bisa buka puasa bersama di atas kapal, menikmati sunrise juga sunset, melihat lumba-lumba berloncatan kesana-kemari? Cuma sekarang!

Berhari-hari di kapal, membuatmu lupa bagaimana berdiri tegak tanpa merasa goyang. Kalau mabuk lautmu masih tersisa, kau masih akan merasa pusing sampai beberapa hari berikutnya. Efeknya benar-benar luar biasa.

Ada satu kejadian di kapal, saat kami buka puasa dan membuat kami tak enak makan. Bukan karena mual. Bukan karena makanannya tidak enak. Tapi karena sebuah berita yang mengabarkan jatuhnya sebuah pesawat Hercules. Iya, pesawat yang itu. Iya, pesawat yang juga dimiliki TNI itu. Kami makan dengan perasaan hambar, tapi deg-degan. Kau tahu? Mulanya tim ini akan berangkat dengan pesawat tersebut sebelum akhirnya naik KRI. Beberapa orang bahkan sempat mengumpat, tapi semua justru bersyukur saat tahu kabar itu. Meskipun di sisi lain kami sedih atas korban yang berjatuhan, kami harus senang karena kami selamat dari kemungkinan itu. Pada akhirnya kita tahu bahwa takdir yang kita jalani adalah yang terbaik dari Tuhan, bukan? Allah memberikan kita kesempatan indah yang lain dengan menaiki KRI ini, meskipun waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan memang jauh lebih lama dibandingkan naik pesawat.

KRI ini, memberikanku pengalaman bahwa merindukan daratan ternyata bisa benar-benar kita rasakan dengan kuat. Keinginan tak terbantahkan. Kamu tak akan meragukan pelaut setelah benar-benar merasakannya sendiri. Pertama kali kami melihat daratan, kami senang bukan main. Apalagi saat mengecek ponsel kami sudah mulai mendapatkan sinyal…

Kami yang biasa di belantara hutan, akhirnya tahu bagaimana rasanya di tengah lautan. Sama-sama tidak ada sinyal.

Tapi, itu indah, bukan?

Cerita berlanjut saat kami, tim ekspedisi harus terbagi dua. Tim A ke masyarakat di sebuah pelosok Palu dan Tim B tinggal di camp di belantara Poso sana. Jangan dikira kami tidak menemui tantangan dan bahaya. Tim A harus berhadapan dengan adat masyarakat yang ditemui, beradaptasi dengan panas luar biasa saat siang dan dingin yang menusuk saat malam, juga harus berhati-hati dengan cacing schisto yang bisa membuat mati dalam waktu singkat. Tim A yang berjenis kelamin perempuan mengantisipasi diri mereka dengan menggunakan cincin di jari manisnya untuk menghindari laki-laki yang mungkin menyukai mereka dan membuat mereka tidak bisa pulang. Seluruh personil Tim A menghindari berpegangan tangan antara laki-laki dan perempuan karena mereka bisa-bisa dinikahkan oleh adat. Bisa kau bayangkan, bagaimana rasanya hidup di tempat yang masih ada bapak kepala suku-nya?

Aku sendiri, termasuk dalam Tim B. Berbeda dengan Tim A yang berbaur dengan masyarakat, kami dihadapkan dengan kenyataan bahwa kami akan tinggal di tempat sepi yang begitu dingin. Tak jauh dari camp kami, merupakan markas para teroris yang mengerikan. Cerita yang ada membuat bergidik sehingga kami harus hati-hati. Tak satupun dari kami mau kepalanya dipenggal. Selamat datang di Poso, kawan.

Perlu kau ketahui tempat dimana Tim B berada, kondisi lingkungannya menakjubkan. Ngengat cantik dimana-mana, mulai ukuran paling kecil sampai paling besar. Kabut tipis pagi yang naik pelan-pelan menjelang siang. Bintang-bintang yang menghambur memenuhi langit malam. Dan banyak lagi. Satu hal yang akan selalu kau ingat setelah pulang dari sini: dinginnya yang tanpa ampun. Entah berapa derajat Celcius suhu pada malam hari, yang jelas suhu terpanas di siang hari adalah 19 derajat Celcius. Itu juga kami tahu karena tidak sengaja melihat termometer ruang yang tergeletak saat melakukan kegiatan. Di dalam tenda, pula.

Selebihnya, tak akan ada cerita menarik disini jika tidak dilakukan pada bulan Ramadhan. Tahukah? Dengan keterbatasan sinyal, jauhnya peradaban, dan faktor-faktor pembatas lain menjadikan kami harus ikhlas dan hati-hati berpuasa. Kami memanfaatkan jadwal imsakiyah yang sudah kami cari sebelum kehilangan sinyal, memastikan sendiri jam berapa masuk waktu imsak-subuh-maghribnya karena tidak ada masjid yang akan mengumandangkan adzan di dekat sini. Kami harus menghemat air untuk minum. Kami harus cermat mengatur menu sahur dan buka yang kami bawa seadanya. Terakhir kami masih di “peradaban”, kami semua tidak sadar banyak membeli makanan dan minuman yang expired. Padahal belinya juga di toko yang berbeda-beda. Pada akhirnya semua makanan dan minuman itu tetap habis. Bukan habis dibuang. Kami semua rela, dengan ucapan bismillah mengonsumsi itu semua. Tak ada cara lain. Tak ada pilihan lain. Tak ada jalan untuk kami kembali ke warung-warung atau toko-toko di tempat yang orang-orang sebut “kota”…

Ya. “Kota”. Sengaja aku gunakan tanda kutip karena kota yang dimaksud bukanlah sebuah kota besar. Segala sesuatu yang kau butuhkan tak akan semudah itu kau dapat. Tapi, semuanya indah. Banyak tempat yang akan mengobati kehausanmu akan kepuasan pemandangan. Akan terbayar meski kau harus rela panas-panasan.

Selama ekspedisi ini, menurutmu apakah kami semua bisa berpuasa penuh? Terlepas dari para wanita yang mendapat halangan, puasa kami pernah sekali-dua kali batal. Atau bahkan memang tidak puasa. Bukan apa-apa. Tidak semua fisik anggota tim punya kekuatan yang sama. Medan penelitian yang kami datangi hari keempat sampai ketujuh lumayan berat. Kelerengan 45 derajat bagi kami termasuk curam dan jarak yang begitu jauh menjadi pertimbangan yang sangat berat untuk melanjutkan puasa bagi sebagian kami. Sebagian lain melanjutkan puasanya. Tak ada kata lain selain “Hebat!” yang bisa aku keluarkan untuk mereka. Lain waktu satu-dua orang juga sengaja tidak puasa atau batal puasa saat di kapal. Terlalu mabuk dan memusingkan. Kemudian yang terbayang dalam pikiran kami semua menjadi sama: aku hutang berapa ya Ramadhan kali ini?

Setelah selesai camp, kami pulang. Kembali naik kapal. Kembali lagi terombang-ambing ombak lautan. Kembali mabuk laut. Kembali bersama tentara. Tapi, ada yang berbeda. Kalau waktu berangkat kami menaiki kapal angkut pasukan, kali ini kami naik kapal perang. Lebih kecil. Lebih rumit. KRI yang bahkan belum tentu semua TNI menaikinya. KRI yang belum tentu bisa membawa anggota keluarga penumpangnya. Kapal milik Indonesia. Punya rakyat. Begitulah kata komandan. Dan beruntunglah kami bisa merasakan pengalaman ini.

Sampai di Surabaya, aku berpisah dengan tim EKSFLORASI yang akan menaiki kereta ke Jakarta untuk kemudian kembali ke Bogor. Saatnya langkah kakiku bergerak menuju rumah. Aku harus menemui adikku, yang jarang bisa aku temui karena dia yang sekecil itu juga perantau. Hanya saat ini kesempatanku. Alasan yang membuatku membatalkan tiket kereta untuk ikut kembali ke Bogor.

Aku tak pernah mengira perjalanan ini akan menjadi sebuah cerita menakjubkan. Semua pengalaman yang akan membuatmu lebih mencintai Indonesia, bagaimanapun caranya. Pengalaman yang mengajarkanmu ketabahan dan keikhlasan dalam perjuangan mencari ilmu dan makna hidup. Cerita yang terus membayangi perjalananku pulang, juga sampai sekarang. Cerita yang tak akan pernah membuatku menyesal untuk memilikinya, karena pada akhirnya aku berhasil menyempatkan diri merayakan lebaran di rumah. Cerita yang membuatku sampai di rumah H-2 lebaran, tanpa perlu merelakan pertemuanku dengan adik dan orangtuaku tercinta.

Happy ‘Eid Mubarak 1436 H dari KRI Teluk Sampit-515 (Photo credit: Rosita)

 

profile

Maghfira Alv adalah nama pena dari Maghfiroh Al-F, yang biasa dipanggil Vira. Lahir di Sumenep pada tanggal 24 Februari 1994 dan bertempat tinggal di Yogyakarta. Saat ini, penulis berada di Bogor untuk melanjutkan studinya di Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Kehutanan Departemen Silvikultur. Sangat menyukai petualangan dan tempat-tempat baru. Juga teman baru. Pengoleksi cerita kehidupan. Menyukai segalanya: bacaan, film, musik, seni, perjalanan, makanan, filsafat, fotografi, juga hidup. Vira bisa dihubungi di @viradiplantae (twitter), veera.alv@gmail.com (email) atau di weblognya pyongpyang.wordpress.com.

Advertisements

3 responses

  1. Tim A dan Tim B sama-sama besar ya risikonya. Aku suka baca ceritamu ini, Vir. Selalu bisa ngambil sisi positif. Narasinya juga smooth banget 🙂

    December 20, 2016 at 11:45

    • Ini sebenernya kisah yang dilombakan mbak. Tapi ulasannya ada di postingan setelah ini hehehe
      Terimakasih kunjungan baliknya mbak 🙂

      December 20, 2016 at 12:25

  2. Pingback: [A Book] Kisah Ramadhan Mahasiswa Rantau | My Love, My Life !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s