share ur story, ur world, ur love !

Misteri Itu Bernama Rindu

Rindu.

Ya, rindu. Seharusnya, memang sesederhana itu. Sesederhana aku menuliskan kata itu dan tidak sesulit mengatakannya. Seharusnya.

Jujur, tulisan ini tercipta karena seseorang. Ada seseorang yang selalu membuatku penasaran dengan satu kata bernama rindu. Orang ini bisa dengan mudahnya mengatakan, “Aku rindu”. Memangnya, rindu tidak menular? Entahlah, mungkin ini hanya permainan pikiranku. Atau ini hanya omong kosong perasaanku? Halah. Semoga seseorang itu tidak membaca tulisan ini sehingga tidak perlu merasa yang dimaksud adalah karena dirinya.

miss-you

“Kau adalah sepanjang ingatan yang kukenal dengan nama rindu.”

Tidak. Itu bukanlah kalimat singkat yang bisa diucapkan dengan mudahnya. Sama sekali tidak. Pertama, bagaimana bisa kalimat itu keluar dari mulut jika aku tidak rindu? Kedua, bagaimana bisa aku bicara sementara egoku melayang terbang kemudian jatuh nyusruk di sudut hati yang tersembunyi? Oke, ini alay. Maksudnya, itu terlalu berat untuk mengangkat ego yang mengakar. Ego apa? Apapun. Ah, sudahlah. Biarkan ini menjadi bahasan debat antara pikiran dan hatiku. Abaikan saja mereka. Maklum, mereka sedang labil. Pikiran dan hatiku sedang tak tentu arah tanpa tujuan. Nah,

alay lagi. Hahaha.

Ada satu masalah yang tak kunjung dapat diselesaikan semua orang mengenai rindu. Pertemuan. Ya, terlalu banyak orang merindu yang berharap pada pertemuan. Pertemuan menjadi jalan paling luas yang ditempuh orang merindu. Kemudian, bagaimana jika tidak dapat bertemu? Akan menjadi masalah baru jika pertemuan adalah solusi atas masalah kerinduan, kemudian kita tidak dapat mengadakan pertemuan ini. Kemudian dari sini lahirlah pertanyaan, bagaimana bisa sebuah solusi atas suatu masalah justru menjadi sumber masalah baru yang tidak terpikirkan sebelumnya? Pada akhirnya pertemuan menjadi kendala karena tidak dapat terlaksana untuk menyembuhkan kerinduan. Oke, masalah baru ditemukan. Bagaimana mengobati rindu? Haruskah bertemu? Bagaimana jika tidak bisa?

Sebenarnya, jawaban atas kerinduan bukan hanya sebuah pertemuan. Banyak. Tergantung variasi dan kreativitas seseorang bagaimana mendapatkan jawaban atas kerinduannya.

Memangnya, apa sih yang dicari dari sebuah pertemuan? Kenapa harus bertemu saat rindu? Kenapa harus rindu? Sebatas mencari sebuah wajah, seutas senyum, sederet suara, gelak tawa, atau kerlingan mata? Aku rasa tidak. Wajah bisa ditemui dalam foto. Pun senyuman. Suara dan gelak tawa dapat didengar melalui telepon, kecuali orang yang dirindukan sudah benar-benar tiada. Kerlingan mata? Ah, itu hanya ilusi. Atau kenangan itu bisa dicari sepanjang ingatan. Kita masih bisa mengingat bagaimana orang yang dirindukan melakukan sesuatu. Semuanya tersimpan rapi dalam ingatan, kalau memang itu berarti.

Kemudian, doa. Doa ternyata juga menjadi jawaban atas kerinduan. Jawaban yang masih membuatku penasaran sebenarnya. Kenapa harus dengan doa? Kita yang merindu, kenapa mendoakan untuk yang dirindu? Entahlah. Tapi ada kekuatan dibalik itu. Ajaib.

Terlepas dari semua jawaban menuntaskan rindu, bentuk rindu ini sendiri masih menjadi misteri. Mengapa harus ada rindu? Mengapa harus merindu? Pertanyaan semacam “bagaimana bisa” menjadi hal yang paling tidak masuk akal untuk ditanyakan pada orang yang sedang merindu, karena nyatanya, jawaban pertanyaan itu adalah pertanyaan itu sendiri. Kemudian yang ada adalah:

“Bagaimana bisa aku rindu?”

“Karena aku rindu.”

One response

  1. Misteri itu adalah rindu🙂 coba gali dan temukan, coba gali dan renungkan, siapa dia? Dan katakan🙂

    Aku juga punya kak kesedihan merindu

    October 10, 2014 at 19:34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s