share ur story, ur world, ur love !

[Al-Yaum 17] Sakitku bukan inginku

Sadar bahwa aku seorang manusia biasa, yang tak bisa langsung mengubah kenyataan yang ada. Aku muak pada mereka. Semua yang harus selalu aku hadapi setiap waktu. Membuatku benar-benar tak peduli. Sakit. Jika benar aku bisa membuat hati mereka hancur dengan kepergianku, seharusnya mereka senang atasku. Keterlaluan. Sikap mereka kelewatan. Tak pernah melihat sesuatu dari sudut pandangku. Tak pernah sadar diri. Selalu menyalahkan orang lain. Menyalahkanku. Mereka pikir aku apa? Batu? Patung? Yang mereka pikir aku tak bisa mendengarnya? Tak bisa merasakan dan tidak punya hati? Seharusnya itu untuk mereka. Sikap semua orang yang selalu membuat mereka marah. Salah, kata mereka. Lalu yang benar seperti apa? Kenyataannya mereka tak bisa lebih baik dari apa yang sudah kami lakukan. Tak sadarkah? Mereka juga salah. Lebih salah.

Aku tak tahan lagi. Sakitku terlalu parah. Aku ingin berhenti. Tapi aku ingin membahagiakan dia. Tak bisa meninggalkannya, meski aku sudah terlalu sering membuatnya kecewa. Maaf, tapi aku manusia biasa. Maaf, tapi aku juga sakit sendiri jika terus begini. Aku mesti pergi jika tak menginginkan sakit. Pergi jauh, dan tak pernah kembali. Pergi meninggalkannya dan membuatnya murka. Ah, aku tak bisa. Dia memang menghinaku. Tak apa. Tapi aku menyayanginya.

Lebih baik aku mengorbankan perasaanku daripada mengorbankan perasaan orang lain. Satu lawan seribu. Tak apa, aku sakit karena mereka. Setahun lagi aku akan benar-benar pergi. Setidaknya jika aku belum mati. Dan sakitku akan hilang, meskipun terkenang. Terlalu sakit. Korban tindakan mereka. Korban perasaan. Korban ketidakadilan. Korban pelecehan. Mereka merendahkanku. Tak mau melihat seedikitpun bahwa aku memiliki segudang bakat. Bakat untuk melecehkan mereka pula. Dan mereka tersangkanya.

Tapi mereka bilang aku tak adil. Mereka tak akan terima. Seharusnya mereka yang begini padaku. Ahh, mereka sudah kelewatan. Melebihi ini. Aku tahu aku tak pantas begini, mereka teladanku. Seolah-olah guruku. Ahh. Aku menganggap mereka kakak-kakak perempuanku. Tak pantas jadi guru. Belum bisa mencontohkan. Belum bisa jadi teladan.

Aku butuh mereka yang lebih tua. Yang lebih bijaksana. Yang bisa menyikapi dengan pikiran, bukan dengan hati dan perasaan.

Kenyataannya aku tak bisa mendapatkannya.

Mustahil.

Seandainya aku bisa memecat mereka semua, sakitku hilang.

Atau, aku berhenti dan pergi.

 

7 responses

  1. Lho kamu mao pergi ke mana..??

    February 7, 2011 at 19:13

    • mana ya…?
      gatau jugak😀

      *bingung*

      February 8, 2011 at 16:49

  2. enjoy aja neng. peduli amat ma mereka. amat aja g peduli,hehehehe….
    PPPiiiiiiissssssss………….!!!!!!!!!!!!!

    February 8, 2011 at 03:34

    • lahh..
      harus peduli… demi masa depan😀

      *apaan coba*

      February 8, 2011 at 16:51

  3. bersabar agaknya adalah yang lebih baik n ambil keputusan yang terbaik ..
    keep on the spirit veera…sukses selalu untkmu.

    February 8, 2011 at 05:21

    • iya mbak….🙂
      emang harus sabar… meskipun bener-bener banyak korban (selain aku)…

      makasih mbak… ^^

      February 8, 2011 at 16:53

  4. met malam

    February 8, 2011 at 20:25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s