share ur story, ur world, ur love !

[hanya] sebuah peristiwa

Buyut udah balik ke rumah nenek. Sedih aku melihatnya. Buyut terbaring tak berdaya.

Anak-anak buyut berdatangan ke rumah nenek, bergantian menjaga buyut di kamar tempatnya istirahat.

Siangnya, nenek-nenekku dan lek-lekku berkumpul di kamar buyut. Adikku pun kesana. Bahkan sepupu-sepupu dan duapupu-ku turut berkumpul. Aku tak ikut berkumpul karena aku belum shalat dzuhur. Sudah jam setengah dua siang.

Seusai shalat, adikku masuk kamar kami. Dia menangis. Aku menanyakan alasannya menangis setelah selesai berdoa. Tapi dia tak menjawab. Lalu aku mulai mengerti kenapa. Pasti… pasti buyut. Tidak salah lagi.

“Mbah buyut kenapa, dek?”

“Sana lihat sendiri!” katanya, setengah membentak.

Aku tersentak kaget. Berani sekali dia bilang begitu padaku? Membentakku seperti itu?

Tiba-tiba berbagai persangkaan berkecamuk dalam pikiranku. Jangan-jangan… Nggak! Nggak mungkin itu terjadi sekarang…

Setelah ganti baju, aku langsung berjalan ke kamar buyut. Aku berjalan pelan-pelan. Takut telah terjadi sesuatu pada buyutku…

Sampai di kamar buyut, semua menangis. Tapi… syukurlah, buyut belum sampai ajalnya.

Aku berdiri mematung melihat pemandangan ini. Buyut, anak-anaknya, cucu-cucunya, serta semua cicitnya manangis. Aku. Oh, aku. Aku hanya diam membisu. Aku sudah berniat tak akan menangis. Itu tekadku.

Begitu melihat nenekku, keteguhanku runtuh. Tekadku musnah. Buyar sudah janjiku tadi, terhapus oleh titik-titik air mata nenek yang berjatuhan. Mataku panas. Duh, aku tak sanggup lagi menahannya.

Tak kurasa air mataku mengalir. Oh, Tuhan…

Mungkin dengan menangis aku dianggap masih peduli pada mereka semua. Mungkin dengan ini mereka tahu aku masih sayang dengan buyut. Apa semua itu harus ditunjukkan dengan air mata? Padahal… padahal aku menangis karena nenek. Aku sungguh kasihan padanya. Beberapa tahun lalu beliau ditinggal oleh ibunya. Untuk selamanya. Dan beberapa tahun kemudian suaminya pun ikut meninggalkannya. Dan sekarang …

Aku tak tega melihat nenek, memikirkan nenek. Setelah ini, ia hanya akan hidup dengan saudara dan anak-anaknya, juga cucu-cucunya. Tanpa orang tua terkasihnya…

Adik nenekku –nenekku yang satunya– bertanya padaku, apakah aku sudah bejabat tangan dengan buyut. Aku jawab belum. Setengah terkejut ia bertanya, “Belum?”

Aku mengangguk cepat.

Oh, Tuhan… ada apa ini? Kenapa aku harus bersalaman dengan beliau? Beliau… tidak akan meninggalkan kami, kan?

“Ini… salaman dulu,” katanya sambil memberikan tangan buyut yang sedari tadi digenggamnya.

Aku bersalaman dengan buyut. Buyut menanyakanku pada nenek, ” Siapa ini?”

“Alvi ba…,” jawab nenek.

Lalu, sesuatu yang tak kupikirkan sebelumnya terjadi. Beliau menangis deras.

“Alvi…,” katanya.

Aku pun semakin deras menangis dan menjatuhkan kepalaku tepat di sebelah kanan perutnya. Tepat pada saat itu pula nenekku meneriakiku, “Cium, Vi…”

Haduhh…aku malu. Rasanya aku seperti ditertawakan oleh semua orang di ruangan itu.

Ingin rasanya aku meringis, tapi nyatanya aku malah semakin deras menangis. Lalu kucium pipi kirinya.

“Dua-duanya, Vi…,” kata nenek lagi.

Kuturuti kata nenek. Kucium pipi kanannya.

Lalu buyut berkata, ” Hi’ … hahiah hanya’ hany hsohehah… hhangh hahih hahak… hahnyhanh hhamhu hurhhaha…,”

Aku bingung setangah mati.

Lalu beliau melanjutkan, ” Herhhi?”

Aku merasa tahu arti kalimat terakhir itu. Mungkin maksudnya, “Ngerti?”

Aku setengah mengagguk dan menjawab, “Ngerti.” Meskipun aku ragu-ragu menjawabnya karena sebenarnya aku tak tahu…

Lalu aku duduk di sebelahnya. Masih memegang tangannya sejak bersalaman tadi.

Setelah duduk, lek yang ada di sebelah kiriku berbisik, “Vi, bilang ke Mukti telpon Bi’ Mana untuk nganterin Ian kesini….cepetan.”

Aku berdiri dan melepas genggamanku. Aku berjalan agak cepat ke sebelah rumah nenek, yaitu rumah lek Fatim.

Sesampainya disana, langsung kutemui Mukti yang sedang merenung.

“Ti… telpon Bi’ Mana, bilang kak Ian suruh anterin kesini…cepet!”

Mukti langsung mengambil hp-nya dan menelepon Bi’ Mana.

“Mbak…nggak bisa…,”katanya, kalut.

“Coba lagi…”

Ia pun mencoba lagi menelepon Bi’ Mana.

“Bisa?” tanyaku setelah telinganya menempel agak lama dengan telepon genggamnya.

“Bisa, tapi belum diangkat…”

Setelah agak lama, akhirnya diangkat.

“Halo,” kata Mukti. Selanjutnya, ia berkata pada Bi’ Mana untuk membawa Ian kesini.

“Ada apa emang?” Aku mendengar jawaban dari Bi’ Mana. Kebetulan di-loudspeaker.

“Udah, pokoknya cepetan anterin!” kata Mukti.

Aku tahu, Bi’ Mana kebingungan atas tingkah Mukti. Dia mencoba terus bertanya pada Mukti. Aku bisa merasakan keheranannya, karena memang tidak biasanya keluarga Mukti tiba-tiba meminta Ian untuk pulang.

“Ayo,Ti. Jangan buang-buang waktu…,” kataku.

“Udahlah,yang penting cepetan anterin kesini. Udah ya.”

Tut. Telepon selesai.

Hmmmh….lumayan juga Mukti. Tanpa aku beritahu pun, dia tahu apa yang harus dilakukannya di depan Bi’ Muna. Yaitu merahasiakan apa yang terjadi disini. Bahwa penyakit buyut kambuh lagi.Padahal dia masih kelas lima SD.

“Sudah?” tanyaku. Tetap kutanya meski aku sudah tahu jawabannya.

Mukti hanya mengangguk.

“Aku kesana dulu, ya…,” kataku sambil berlalu darinya. Setengah berlari aku datangi rumah nenekku lagi.

Aku berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahku. Ah, sejuknya… Sejenak aku tak merasakan lagi hangatnya mukaku ketika aku menangis tadi.

Lalu aku berjalan ke tangga. Naik ke atas. Rumah nenek memang masih setengah jadi. Di bagian bawah sudah selesai, di bagian atasnya belum. Tapi rumah ini sudah ditinggali.

Aku duduk menenangkan diri di atas. Menatap langit yang mendung. Memang, kalau ada sesuatu padaku, aku pasti ke atas sini. Hanya untuk menenangkan diriku.

Wajahku yang tadi terasa sejuk, menghangat kembali. Airmata telah menggenang di pelupuk mataku. Tak tahu kenapa…

Beberapa menit kemudian, kudengar suara petir menggelegar. Lalu terlihat kilatnya yang menyambar-nyambar. Serasa menyambar hatiku.

Setetes air langit menetes. Rupanya telah gerimis. Dan lama kelamaan semakin deras.

Aku masih duduk beratapkan langit. Merasakan air hujan yang membasahi semen-semen kering dan tubuhku.

Aku diam.

Bajuku basah kuyup.

Ah, sudah terlanjur, pikirku. Lebih baik aku tak usah turun hingga hujannya berhenti.

Air mataku semakin deras saja mengalir. Mengejar air hujan yang jatuh membasahi bumi.

*****

alv,

prd, (kalo gak salah) 2009

5 responses

  1. Rumah WordPressnya kok gelap kelam begini seehhh??? Heheu…

    Maap ya veera, saya nggak punya wordpress🙂

    September 25, 2010 at 09:33

    • heheh,nggak nemu tema yang oke sih mbak…kemaren make warna ijo, tapi kayaknya terlalu gimanaaaa gitu….jadi aku ganti ini aja,hehe.
      aku kira mbak thiya punya?
      soalnya waktu buka empe-nya, di kontaknya ada gambar “W” gitu, kirain punya….😀

      September 25, 2010 at 11:55

      • oh iya.. heheu.. itu memang karena kapan2 kepengen bikin wordpress

        September 25, 2010 at 13:12

      • nah lho…dan akhirnya blog-nya numpuk….ngehehe…:D

        September 25, 2010 at 13:41

  2. This is really interesting. Thanks for posting it. By the looks of the comments, many others think so too.

    December 30, 2010 at 06:08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s