share ur story, ur world, ur love !

Author Archive

Image

Kangen

 

Kucingnya lagi kangen…

Hahaha. Itu merana banget kucingnyaaa :”D


Misteri Itu Bernama Rindu

Rindu.

Ya, rindu. Seharusnya, memang sesederhana itu. Sesederhana aku menuliskan kata itu dan tidak sesulit mengatakannya. Seharusnya.

Jujur, tulisan ini tercipta karena seseorang. Ada seseorang yang selalu membuatku penasaran dengan satu kata bernama rindu. Orang ini bisa dengan mudahnya mengatakan, “Aku rindu”. Memangnya, rindu tidak menular? Entahlah, mungkin ini hanya permainan pikiranku. Atau ini hanya omong kosong perasaanku? Halah. Semoga seseorang itu tidak membaca tulisan ini sehingga tidak perlu merasa yang dimaksud adalah karena dirinya.

miss-you

“Kau adalah sepanjang ingatan yang kukenal dengan nama rindu.”

Tidak. Itu bukanlah kalimat singkat yang bisa diucapkan dengan mudahnya. Sama sekali tidak. Pertama, bagaimana bisa kalimat itu keluar dari mulut jika aku tidak rindu? Kedua, bagaimana bisa aku bicara sementara egoku melayang terbang kemudian jatuh nyusruk di sudut hati yang tersembunyi? Oke, ini alay. Maksudnya, itu terlalu berat untuk mengangkat ego yang mengakar. Ego apa? Apapun. Ah, sudahlah. Biarkan ini menjadi bahasan debat antara pikiran dan hatiku. Abaikan saja mereka. Maklum, mereka sedang labil. Pikiran dan hatiku sedang tak tentu arah tanpa tujuan. Nah, alay lagi…


Tentang Hati

leaves Suatu ketika, kamu berargumen. “Kamu gak pernah ngerasain kan? Jatuh di dua hati itu lelah. Kamu ada di posisi serba salah. Duh, kamu ga akan tahu. Kamu ga pernah ngerasain kan? Ga pernah kan??” Dul, waktu itu mungkin aku bisa menggeleng. Tapi, kalo dari waktu itu aku terus menggeleng sampai sekarang, rasanya aku sendiri bakal ga percaya. Kali ini, di waktu sekarang mungkin aku bakal berhenti menggeleng. Nggak, dul. Aku tahu rasanya dul. Aku ga main-main waktu kirimin kamu sms, “Sekarang aku tahu rasanya jatuh di dua hati, bang. Sedih kemana-mana. Aku harus gimana? Kamu pernah kayak gini kan?” Dan sedihnya, kamu ga bales…


Tentang Weathercock – Depapepe

cover album

Sukaaaaa banget sama musik satu ini.

Satu hal lagi yang saya tahu tentang ini, kamu juga suka lagu ini. Terlalu suka, sampai-sampai kamu mempelajari chords gitar musiknya, kamu mainin di gitarmu—gitar kesayanganmu—kalo lagi bosen. Ngomong-ngomong, saya kangen nih. Sama kamu, sama gitarmu, sama kamu yang lagi mainin gitarmu. Kangen sama semua lagu yang pernah…


Broken-hearted Man

Broken Glass Heart

Ini hanya potongan sebuah kisah.

Tentang seorang yang patah hatinya, kemudian kesulitan merangkainya kembali sesempurna sebelumnya. Retak. Nyaris pecah, tapi tidak berkeping-keping. Seharusnya.

Ada hati yang bagiannya ia berikan pada seorang lainnya, selain bagian yang ia simpan sendiri. Ia titipkan hatinya, untuk kemudian dapat ia tukar dengan bagian hati dari orang terkasihnya untuk ia jaga, ia pelihara baik-baik. Sayang, pengorbanan orang ini disia-siakan orang terkasihnya. Ia jaga bagian hati milik kekasihnya, tapi kekasihnya membuang semua bagian hatinya. Bagian hati miliknya, yang tak bisa kembali karena hilang entah kemana. Hancur.


Awalnya, Kita…

Ingat bagaimana dulu pertama kali kita ketemu?

Hehe. Aku masih gatau, kalau ternyata kamu kakak kelasku. Yang aku tahu, aku seneng karna dapet temen baru di IPB, dari satu daerah. Seneng banget. Gatau kalau ternyata kamu itu kakak kelasku, yang waktu itu jadi panitia penegak kedisiplinan yang harusnya ga dideketin… hihi.

Aku sempet nyari, dan ketemulah ini. Percakapan kita, pertama kali dulu. Yang, selalu, kalo kamu inget-inget pasti kamu ketawa. Dan itu pasti bikin aku malu sendiri. Tapi ya begini inilah dulu kita interaksi. Tanpa aku tahu akhirnya kita bisa bersama dari sini :D

conversationHahaha. Biasanya, kamu ketawa waktu inget ini.

Duh, aku kangen kamu. Beneran.


Skala Produktivitas

Produktivitas.

Satu kata yang menghantui saya, kalau saya mengaku saya menyukai dunia kepenulisan. Juga kalau saya mengaku saya mahasiswa…

Ada apa dengan kata ini?

Jujur, saya sedih. Sangat sedih jika mengingat produktivitas saya yang makin menurun setiap waktu. Saya sempat semangat lagi saat ada seseorang di samping saya, menemani saat saya susah, saat saya senang. Dia, bisa membuat saya semangat lagi untuk menulis. Untuk kembali produktif. Namun kemudian, saya sadari efeknya tidak lama. Saya butuh semangat dari sisi lain. Bukan hanya dia.

Nyatanya, saat saya pikir-pikir ulang, saya tetap lebih produktif saat saya belum bersama dia. Kemudian, produktivitas saya cukup menurun saat saya dengannya. Dan parahnya lagi, produktivitas saya semakin menurun tajam, saat dia benar-benar tidak ada di sisi saya. Tapi saya bisa apa? Skala produktivitas saya semakin memburuk, tapi saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya butuh sesuatu yang segar. Butuh refreshing. Butuh sesuatu yang baru untuk bisa saya tulis. Tapi saya tidak tahu, darimana saya dapat itu. Lagi-lagi, saya berpikir saya hanya butuh dia. Biasanya, kalau saya begini, dia mencoba memberi saya ide-ide baru atau pengembangan ide saya untuk ditulis. Masukannya sangat berarti buat saya. Dan dia, sepertinya tidak pernah menyadari itu…

 


Tentang Kesetiaan

Iya, awalnya saya memang tidak mau. Tapi pada akhirnya, saya memilih kamu. Iya, kamu. Kamu yang pertama, sekaligus terakhir untuk saya. Saya memilih untuk menerima apa adanya kamu, baik buruknya kamu. Kenapa? Karena kita bisa berubah menjadi lebih baik, bersama-sama.

Ada sesuatu, yang ada di diri kamu, yang tidak ada pada diri saya…

Itu, seperti sesuatu, bagian pada diri saya yang ada pada diri kamu, yang kalau kamu bawa saat bersama saya, bisa melengkapi hidup saya. Sesuatu, yang kalau ada kamu, segalanya bisa saya selesaikan sempurna. Karena tanpa kamu, yang saya lakukan hanya selesai setengah-setengah; separuh hilang. Separuh itu bisa teratasi saat kamu ada. Iya, kamu. Kalau kamu ada, kalau kita bersama, semua bisa selesai tepat sempurna. Tanpa kurang. Dan inilah, saya butuh ini sekarang. Saya butuh kamu, untuk melengkapi kekurangan saya, untuk melengkapi segalanya yang saya lakukan, yang sekarang jadinya cacat karena tanpa kamu. Saya butuh kamu.

Kamu memilih pergi.

Saya tahu, saya yakin, ini hanya sementara. Iya kan?

Saya yakin, kamu bukan orang yang seperti ini. Ada keyakinan yang besar dalam diri saya, bahwa kamu akan kembali. Kamu hanya sedang butuh waktu untuk sendiri, sedang butuh waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang sepertinya benar-benar hanya harus kamu yang tahu, dan orang lain tidak. Termasuk saya. Saya yakin, kamu sedang membutuhkan waktu untuk berpikir sendirian, tanpa saya. Saya juga pernah begitu, meski saya tidak menceritakannya padamu. Meskipun saya agak berbeda denganmu, meskipun waktu yang saya butuhkan tidak se-lama yang kamu butuhkan…

Saya rindu.

Saya terlalu rindu.

Kamu tidak merasakan itu? Saya terlalu amat sangat rindu.

Kamu tahu saya sempat putus asa? Ya, kamu tahu. Pasti tahu. Tapi saya masih memegang keyakinan terbesar dalam diri saya. Saya yakin, kamu berbeda. Kamu bukan pembual. Kamu orang yang bertanggungjawab. Selalu, selama ini kamu begitu. Kamu berani meyakinkan saya, pasti kamu juga berani membuktikan pada saya. Kamu bukan orang yang mudah menyerah. Saya pun tidak mau segampang itu menyerah.

Saya tidak mau menyerah. Dulu, kamu juga begitu. Kan?

Itulah, saya masih setia. Seperti yang dari awal saya bilang :)


Someone Special

Ini tentang bagaimana kamu menjalani hari, dengan doa yang terbayang, doa yang pernah seseorang panjatkan untuk kebaikanmu. Doa yang begitu berarti, sampai saat ini..

ultahYa, sangat berarti.

Doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang begitu spesial, dan saat ini kamu harus melihat dia jauh darimu. Bagaimana perasaanmu? Kacaukah?

Pribadi saya belum menjadi lebih baik ternyata, tahun ini. Dan yang saya inginkan untuk tercapai belum tercapai dengan indah pula tahun ini. Kita memang bicara masalah takdir. Kamu pasti ingat bahwa takdir bisa diubah selama manusia mau berdoa dan berusaha. Bahkan, doa yang hanya punya kapasitas 5%, bisa mengalahkan usaha yang 95%. Bagaimana bisa? Bisa saja. Itu kehendak Tuhan. Itu juga menurut guru agama saya. Tapi saya lupa dalilnya.

Seharusnya, kamu yang mendoakan saya, juga bantu untuk membuat saya menjadi lebih baik. Ada usaha juga di setiap doa. Bantu saya mencapai yang saya inginkan dengan indah tahun ini. Seharusnya…


One More Nightmare

Bagiku, ini mimpi buruk.

Masuk kemiliteran, dan ngeliat darah dimana-mana. Siapa yang ga takut coba?? -__-

Parahnya, aku dapet perintah langsung dari komandan, buat cari 4 orang yang mau ngerelain nyawanya. Daripada mereka ga punya tugas yang bisa mereka emban, mereka harus dimusnahkan. Empat orang ini harus mengajukan diri, sukarela. Bukan komandan yang nunjuk, apalagi aku. Masalahnya, begini, aku harus mengumumkan ke semua temen-temenku itu jam 5 tepat, dan saat itu ada pidato dari presiden. Entahlah, gimana caranya aku bisa nge-ganggu jalannya itu acara. Yang jelas aku harus ngumumumin dengan lantang, jam 5 tepat, dan harus ada yang mau ngerelain dirinya. Serem, soalnya di sepanjang aku bertugas, aku deg-degan setengah mampus, takut sama resiko yang bakal aku hadepin. Apa coba? Pertama, kalo aku ngumuminnya lebih dari jam 5 barang satu menit, aku yang bakal dihabisi. Aku yang bakal mati: ditembak mati. Sama komandan langsung. Kedua, kalau ga ada yang mau ngerelain dirinya, aku juga harus mati. Entahlah, pikiranku campur aduk, antara mau ngganggu jalannya pidato si presiden atau aku yang bakal mati sia-sia di tempat, di hadapan teman-temanku sekalian.

Beruntung, aku bisa dengan tegas ngumumumin jam 5 tepat versi jam tangan bapak komandan, juga berhasil dapet 4 sukarelawan yang mau ngorbanin dirinya. Aku ngerasa bersalah…

Sayangnya, sebelum mereka berempat mati, ada darah yang netes dari tribun di tempat temen-temenku semua itu berdiri. Ada darah yang netes diantara mereka berempat, tapi bukan dari mereka berempat itu. Aku panik. Itu darah siapa yang ngalir? Darah siapa yang bisa-bisanya netes sampe bawah? Semuanya panik. Termasuk komandan yang ternyata juga gatau.

Tepat saat aku hampir tahu itu darah siapa, aku kebangun dari tidurku…

Aku masih inget dengan jelas mimpiku yang satu ini sampe aku kebangun. Rasanya nyata banget. Horor, sehoror-horornya. Aku kebangun dengan mata melotot dan tanganku yang sedekap. Sampe sekarang, aku masih inget gimana mimpinya, gimana takutnya… karna itu kerasa bukan mimpi. Seolah aku bener-bener ngalamin. Tau-tau, jadinya aku malah gabisa tidur lagi. Ga bisa. Itu terlalu horor…


Aku, Aka, Sapi

Aku gatau sebenernya lagi nulis apa. Gatau.
Mungkin ini lebih dari gila, lebih dari sebuah ketidakwarasan. Aku udah ada di atas normal.
Ada semacam kehampaan setiap aku melakukan sesuatu hal. Terutama pada hal yang biasa aku lakukan berkaitan dengan dia. Itu, sapi. Sapi kesayanganku.
Aku bukan ingin bergantung padanya, tapi… tapi ada bagian diriku yang ada pada dirinya. Ada bagianku yang hilang saat dia ga ada. Aku ga tau. Tapi aku sedih, lebih dari sedih. Sejak kapan juga aku gatau, aku mulai suka nangis waktu sendiri. Nggak, nggak. Bahkan saat aku di jalan pulang sendiri, lagi ngojek, lagi belajar, lagi di depan laptop, lagi nonton, lagi dengerin lagu, lagi kuliah… itu bisa jadi waktu yang pas buat aku nangis tiba-tiba. Ga ada yang salah sama aku. Tapi hatiku lagi rusak. Butuh direparasi. Tapi peralatannya ada di dia, sapiku yang manis.
Parahnya, aku juga ga bisa ngira aku bakal begini. Pikiranku kosong tiap waktu, bengong tanpa tahu sebenernya aku lagi mikirin apa. Memang apa? Aku ga mikirin apa-apa. Tiba-tiba kosong. Nangis. Menjadi.
Tiba-tiba aku ingin sesuatu. Aku ingin sesuatu yang bisa aku pegang, aku ingin ada sesuatu yang bisa aku buat bersandar. Mataku udah ga tertolong. Udah kayak apa juga gatau gara-gara nangis tiap waktu. Aku ga bisa ngontrol pikiranku. Bener, ini ada yang salah. Aku butuh bagianku yang hilang buat memperbaiki ini semua.
Parah.
Tiba-tiba nangis waktu lagi dengerin dosen, tiba-tiba nangis waktu pulang gara-gara ngeluarin kunci kosan yang ada gantungan kunci kita yang sama, tiba-tiba nangis kalau harus nulis, dan abis itu pasti ngeblank otaknya. Bener-bener ga tertolong. Aku dihujat diriku sendiri. Pikiran ingin mati selalu ada tiap hari. Sampai ingin, saat melintas menyebrang jalan menunggu mobil yang lewat, aku ingin menyebrang saat mobil belum sempat berlalu. Aku frustasi setengah mati. Bangun tidur nangis, mau tidur nangis. Ga nafsu makan. Badanku meriang lagi hampir tiap malam. Ada obat yang ga diminum karena udah ga tau pikiran kemana. Aku bener-bener ga waras. Terus mau apa? Kalau di kamar sendiri malah cuma bisa mandang Aka, boneka sapi kecil yang ga pernah senyum. Dulu, kamu yang bilang, Aka selalu sedih. Tapi, aku tahu aku bisa selalu senyum kalau kamu ada di samping Aka. Sekarang, tanpa kamu, aku bener-bener sedih, berdua dengan Aka. Karena kamu belum juga kembali.
Beberapa malam, tidurku ga nyenyak. Tahu kan, indikasi kamu tidur nyenyak? Kamu ga akan mimpi atau melihat apapun dalam tidurmu. Hanya gelap, hanya tahu kamu sadar kembali saat terbangun. Tapi aku, mimpi kamu…
Kamu yang dulu, kamu yang senyum dan ketawa bahagia. Kamu yang lucu, yang bahkan bisa buat aku ketawa meskipun lagi kesel sama kamu. Dan aku, ternyata ga pernah bisa bersikap kayak gitu buat kamu…
Aku kangen kamu…
Sampai sekarang, aku cuma bisa berdoa, semoga aku ga bosan berdua dengan waktu, untuk bisa tetap menunggu sampai kamu kembali. Biar kamu tahu, aku masih setia.


Tugas Perilaku Konsumen

Maghfiroh Al-Fajriyah mahasiswa

Silvikultur,

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

 

Kuliah Perilaku Konsumen Feb – Juni 2014

Dosen:

Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc

Dr Ir Lilik Noor Yuliati, MFSA

Ir. MD Djamaluddin, MSc

Ir. Retnaningsih, MS

 

Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Edisi 2 Cetakan 1. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

cover handout perilaku konsumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kuliah Pertama

 

Saya Maghfiroh Al-Fajriyah mahasiswa Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Pada hari Rabu, 19 Februari 2014 saya mengikuti kuliah Perilaku Konsumen sebagai SC, dan kebetulan saya mengambil mata kuliah tersebut pada saat KRS-B. Kuliah ini disampaikan oleh dosen yang ahli di bidangnya, yaitu Ir. MD Djamaluddin, MSc. Menurut beberapa teman saya yang saya tanya pendapatnya, dosen penyampai materi Perilaku Konsumen pada pertemuan sebelumnya (pertemuan pertama kuliah Perilaku Konsumen) berbeda dengan dosen yang mengisi pertemuan kuliah pertama saya, yaitu Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc. Beliaulah yang menulis buku dengan judul Perilaku Konsumen yang dijadikan sebagai buku pegangan untuk mahasiswanya.

Mata kuliah ini sangat menarik karena mempelajari segala hal tentang konsumen, yakni kebiasaan-kebiasaannya, hal yang mempengaruhi keputusannya, dan semua hal yang berkaitan dengan konsumen. Masing-masing konsumen memiliki motivasi dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga mereka akan memenuhinya dengan cara-cara yang berbeda pula. Motivasi yang mempengaruhi konsumen dapat berasal dari luar diri konsumen dan dapat pula berasal dari dalam diri konsumen tersebut. Motivasi itu sendiri adalah dorongan yang timbul karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi oleh konsumen. Kebutuhan yang tidak terpenuhi ini akan menimbulkan tekanan (tension) yang membuat konsumen tersebut merasa tidak nyaman. Teori kebutuhan ini menggunakan beberapa teori dari para pakar perilaku konsumen, seperti teori Maslow dan teori McClelland. Dalam teorinya, Maslow mengungkapkan tiga hal mengenai teori kebutuhan, yaitu kebutuhan sosial, kebutuhan ego, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan sosial ini seperti kebutuhan akan menikah, kemudian kebutuhan ego adalah kebutuhan untuk menjadi sesuatu yang diinginkan, serta kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi seseorang yang dapat membuktikan sesuatu atas potensi yang konsumen tersebut miliki. Namun sayangnya, Maslow sendiri pernah menyesali teorinya sendiri karena adanya kesalahan penggunaan pada teorinya. Sedangkan pada teori McClelland, McClelland juga membagi teori kebutuhan menjadi tiga, yakni kebutuhan sukses (achievement), kebutuhan afiliasi (affiliation), dan kebutuhan kekuasaan (power).

Kemudian, kepribadian konsumen yang juga berbeda-beda, dapat menjadikan konsumen memilih suatu produk berbeda-beda pula. Hal ini dikarenakan perbedaan kepribadian tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk. Kepribadian itu sendiri memiliki arti sebagai karakteristik psikologis yang paling dalam pada diri konsumen. Kepribadian ini akan mempengaruhi tingkah laku konsumen, dimana nantinya konsumen akan memberikan reaksi yang selalu sama dalam menghadapi sesuatu, atau bisa dibilang merupakan respon konsisten seseorang terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian ini akan menunjukkan konsistensi konsumen dalam melakukan sesuatu, seperti dalam memilih suatu produk. Namun, kepribadian pada diri konsumen dapat berubah saat konsumen berada dalam keadaan yang mendesak.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 923 other followers