share ur story, ur world, ur love !

Author Archive

Even paling bikin ngakak. Malu-maluin. – at Auditorium GMSK FEMA IPB

View on Path


Bagimu, Peluk

Halo.
Bagaimana keadaanmu hari ini?
Belakangan ini aku merasa sangat beruntung, aku bisa berjalan ke kampus–juga kembali ke rumah dengan aman. Tanpa basah-basah. Tanpa perlu terkena hujan. Bagaimana denganmu?
Ah, iya. Ngomong-ngomong tentang hujan, ingat tidak? Saat kita berdua hanya bisa terdiam memandangi hujan, lalu kita terpaku bertatap dengan air hujan yang berjatuhan..
Saat itu, masing-masing dari kita menggigil dan tanpa harus bicara, kita saling mengerti. Bahkan meaki kita tak mau, kita bisa saling berpeluk. Tanpaku, kau hanya bisa memeluk waktu, sampai hujan berhenti.
Saat itu, juga, kamu berkata padaku, “Memelukmu, membuatku merasa tenang…”
Kamu bilang, kamu akan memelukku saat kau merasa gundah, khawatir terhadap semua hal yang harus kau khawatirkan. Padahal, hanya dengan melihat hujan saja kau harusnya tenang… kan?
Lalu bagaimana bisa kau masih ingin berpeluk? Inginkan ketenangan seperti apa lagi?
Dan..
Sebenarnya, aku penasaran sejak dulu. Bagimu, apa artinya peluk?


Bola, Hello Kitty, dan Cinta Terpendam

Dear kamu,
Selamat ulang tahun.

Halo. Maaf aku terlambat dua hari mengirimkan surat ini. Kalau tidak salah, aku sedang sakit saat itu. Mau bagaimana lagi?

Ah. Iya. Selamat ulang tahun. Selamat mengulang hari, mengenang dirimu sejak yang dahulu. Apa, ya. Aku bingung harus bicara apa. Tapi, ya itu tadi. Aku cuma bisa mendoakan kamu, semua yang baik untuk kamu.

Kamu, semoga bisa move on dari bola, dari arema, suatu saat nanti. Habis, gimana ya. Kamu tuh, aneh sih. Kamu suka bola, pecinta arema, suporter setia, dan mencintai para pemain-pemainnya…


Hai, Adik Kecil

anak kecil di warnet

anak kecil di warnetHalo, adik kecil. Kulihat dirimu begitu khusyu’ saat aku duduk di depanmu. Ya, tepat di depanmu. Kupandangi dirimu, sedih, sayang. Bagaimana bisa anak sekecil dirimu berada di warnet sendirian? Aku kira kau perlu duduk disana didampingi orang tuamu, tapi saat aku lihat sekitar… tak ada siapapun. Lagi-lagi aku hanya bisa bilang, bagaimana bisa?

Aku menghela napas panjang.

Masih memandangimu, aku penasaran. Apa yang kamu cari disini? Apa yang kau tonton hingga kau bisa sebegitu khusyuknya? Apa, sayang? Seandainya aku bisa mendekatimu…

Tapi aku tak bisa. Bagaimana jika aku dikira akan menculikmu? Bagaimana jika nantinya aku yang dikira membawamu kesini? Aduh, aku tak tahu harus apa. Lalu, bagaimana?

Entahlah.

Adik kecilku sayang, aku harap, kamu tidak mencari sesuatu yang tidak seharusnya kamu cari. Semoga. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sampai nanti, sampai umurmu terus bertambah, kau akan tetap…


Rindu Terlampir

Selamat sore, cinta.
Bersama surat ini, aku lampirkan rinduku didalamnya. Oh, iya. Aku punya cerita. Dua hari yang lalu, aku jatuh sakit. Harusnya kau tahu, iya kan? Iya. Bukan mau menyalahkan keadaanku ketika itu karena aku tak bisa menulis surat, bukan. Tapi karena aku, apa ya istilahnya, tepar, mungkin istilahnya, aku benar-benar tak bisa menulis surat ini. Dua hari aku terbaring, memikirkan keadaanku tanpa dirimu. Seandainya kemarin kau berjaga di sampingku…
Selama itu, aku berpikir, bagaimana jika selama aku tak menulis surat, kau menggantikanku? Kau tulis surat untukku, yang terbaring lemah dan tak tahu harus apa. Ah, tapi sekarang aku sudah sembuh. Kau harus ikut senang ya.
Ah, iya. Lupa kutanya. Dirimu apa kabar? Jangan sibuk-sibuk ya, aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Terlalu merindukanmu.
Salam sayang, semoga kau selalu baik-baik saja. Sakit itu nggak enak, lho.


Buta Cinta, Bukan Cinta Buta

Ini tentang aku. Ya, aku. Seorang yang memiliki perasaan, yang kata orang itu adalah cinta. Kukira aku mencintai seseorang sebegitu dalamnya, dan aku tak tahu mengapa aku bisa mencintainya. Tapi, bukankah memang seperti itu cinta? Ya, kukira. Itu cinta.

Aku tidak memiliki masalah dengan orang lain, mengenai cinta itu. Hanya, sepertinya orang lain melihatku seperti seorang yang buta cinta. Mereka mengira aku tak tahu menahu apa itu cinta. Memang apa? Sebodoh itukah aku? Atau aku terlalu pintar…


Surat dari Lelaki yang Mencoba Setia

Selamat sore, hai kamu yang dulu menganggapku pelarianmu.

Apa kabar? Masih betah duduk bersamaku di alam kita, yang hanya kita yang tahu? Jangan merasa tidak betah, ya. Aku saja tidak pernah begitu. Bagaimana mungkin kau bisa?

Oh iya, aku dengar kemarin…


Dari Otak Untuk Lambung

Selamat sore, hai kamu. Masih sakitkah? Sudah kubilang, jangan biarkan dirimu tersiram sambal berlebihan. Tidakkah kau meminta mulut agar berhenti memasukkan sambal dalam dirinya?
Mengertilah…


Kepada Bapaknya Rakyat

Kepada Bapaknya Rakyat,

Di Istana Negara.

 

Assalamua’alaikum wr. wb.,

Bapak Presiden, apa kabar? Ketika menulis surat ini, saya penasaran, sedang apa bapak disana? Pasti sedang sibuk, mengunjungi korban bencana Gunung Sinabung, atau sedang membantu menghilangkan rasa sedih para korban banjir Jakarta, sehingga mungkin bapak tidak sempat membaca surat ini. Tapi, tidak apa-apa. Saya tahu bapak tidak hanya mendapat satu surat ini karena memang bapak adalah orang penting, dan saya tidak berhak marah-marah karena saya warga negara yang baik dan memaklumi kesibukan bapak.

Jadi begini, bapaknya rakyat Indonesia. Sebenarnya saya tidak bisa menulis surat yang baik. Juga, sebenarnya saya harus menulis untuk selebtwit, sebuah surat cinta. Saya tidak mengenal dengan baik selebtwit yang saya follow di twitter, saya juga tidak tahu apa nantinya surat saya itu benar-benar ingin saya tujukan kepada mereka. Akhirnya, saya memutuskan menulis surat cinta itu untuk bapak saja, meskipun saya tidak benar-benar yakin bapak adalah seorang selebtwit. Bagaimana menurut bapak? Bolehkah saya bertanya, “Apakah bapak merasa bapak seorang selebtwit?”

Ah, sudahlah. Maafkan saya ya pak, kalau saya membingungkan. Maafkan juga kalau pada akhirnya, saya curhat sama bapak. Saya rakyat baik-baik, kok, pak. Beneran. Mungkin karena saya orang baik-baik itu, pada awalnya saya ingin menulis surat untuk seorang pengacara yang terkenal karena sering berkicau di twitter. Ehm, kalau bapak belum tahu, namanya Farhat Abbas. Tapi, pak, karena saya sayang sama dia, saya urung mengirim surat untuknya. Kasihan dia, pak. Dia mungkin terlalu sayang dengan orang-orang di sekitarnya, jadi semua dia beri masukan menurut opini dia. Kalau suatu saat dia membicarakan bapak, atau istri bapak, atau siapapun keluarga bapak, bagaimana tanggapan bapak? Jangan ditanggapi dengan emosi ya, pak, saya tahu bapak orangnya bijak. Dan semoga jika suatu saat itu terjadi, semoga bapak, atau istri bapak, atau siapapun keluarga bapak, dibicarakan dengan cara yang tidak sama dengan mereka yang sebelum ini dia bicarakan. Percayalah, pak, kalau dia melakukan itu, berarti dia sayang sama bapak.

Astaghfirullah. Maafkan saya, bapak. Saya tidak bermaksud menjadi sama seperti dia karena membicarakan orang lain. Bukan, pak. Bapak masih percaya saya orang baik-baik kan? Percayalah bahwa saya peduli padanya dan sayang, sehingga dia merasa disayangi dan berbalik menyayangi pada warga negara yang lain. Tapi dibanding sama dia, saya lebih sayang sama bapak. Sungguh. Ini karena bapak dan dia berbeda; perjuangan bapak jauh lebih banyak dari dia. Bukankah tidak mudah untuk menjadi presiden, pak? Bapak harus mendengar rakyat, dan mewakili mereka demi negara ini. Apalagi, kalau bapak sampai harus ke luar negeri. Saya yakin, bapak berusaha keras bagaimana negara ini baik di mata negara lain, dengan membela dan menjaga harga diri negara ini. Sungguh, saya bangga. Saya berharap, bapak tidak mengecewakan saya, juga yang lainnya. Bapak ini, salah satu yang terbaik, lho.

Mmm, ternyata surat yang saya tulis ini banyak ya pak. Saya masih memaklumi kalau bapak tidak sempat baca surat ini. Tapi kalau sempat, sungguh, terima kasih banyak. Saya bukan penulis surat yang baik pak. Tapi kalau bapak bisa sampai tidak bosan saat membaca ini (sekali lagi kalau sempat), saya benar-benar berterima kasih, sebanyak-banyaknya, selebih-lebihnya.

Terimakasih, bapaknya rakyat, @SBYudhoyono.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

Salam sayang anak negerimu,

@viradiplantae


Mungkin Seperti Kiamat

Hai. Apa kabar? Sudah lama kita tak bicara sejak kita memutuskan untuk saling diam. Sekarang bagaimana aku di matamu, strataku di hatimu? Masih yang kau bilang, aku yang terakhir?

Ehm. Mungkin seperti kiamat.

Kiamat kan, yang terakhir di dunia ini. Tak ada lagi, tak akan pernah, ada yang lainnya setelah kiamat. Termasuk masa aktifmu mendiami dunia ini. Kecuali jika…


Kenal, Maka Sayang

love-letter

love-letterSelamat sore, kamu. Maaf aku lancang mengirim surat ini. Tapi karena aku mengenalmu, anggap saja ini hadiah untukmu.

“Tak kenal maka tak sayang,” katanya. Pernah dengar? Aku tak perlu mengatakan separuh setuju dengan pernyataan itu, meski awalnya begitu. Aku kira, hanya dengan aku melihat sekilas pada seseorang, aku bisa saja menyukainya. Seperti, mungkin, sebuah lagu. Aku mencintaimu meski tak pernah tahu tentangmu. Atau yang lebih ekstrim, aku mencintaimu sebelum aku mengenalmu. Bagaimana bisa? Kupikir, bisa saja.

Tapi…

Aku pikir, aku salah dengan diriku sendiri. Aku terbiasa menerima semua hal yang aku pikirkan, tanpa ingin menyalahkan diri sendiri. Saat ini, berani-beraninya aku menolak argumenku yang mengatakan bahwa segalanya serba mungkin, termasuk dalam mencintai…


Selamat (Ber)malam Minggu, Cinta

bulanSelamat malam, cinta. Bagaimana kabarmu hari ini? Masihkah kau berkutat dengan jadwalmu yang tak pernah tak sibuk? Aku disini tak lelah menanti, tak akan lelah berdoa. Lihat dirimu, semakin jauh untuk aku capai. Mungkin seperti bulan. Kau begitu jauh, namun sekaligus begitu dekat. Sebegitu jauhnya, karena aku tak tahu sekarang dimana dirimu. Sedang mencari jalan keluarkah dari lubang gelap bernama gua? Sedang melihat burung-burung menyeberangi langitmu? Atau sedang beristirahat karena besok hari Minggu? Ah, aku tak tahu bagaimana aku bisa mengatakan besok hari Minggu dan kau tak memiliki hal untuk dilakukan. Maafkan aku, aku lupa…


Cinta dan Kesabaran

You

Ini cerita bagaimana cinta bisa membuatmu menjadi lebih sabar. Cinta yang berposisi sebagai guru, sebagai pengajar. Kita bisa tahu bagaimana menerima orang lain, menunggu lebih lama, belajar memahami. Mengerti tentang pribadi seseorang, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Itu adalah bagaimana kamu bisa menyadari, bahwa kamu masih bisa memaklumi…

Begini kisahnya…


Persahabatan Lintas-Agama

Jujur, ini aku tulis bukan tanpa maksud. Ya, emang bukan tanpa maksud sih, tapi emang ini aku tulis karna aku abis baca berita tentang ini dan emang lagi heboh dibicarain. Ih, emang apa sih?

Nah, jadi gini, di Path itu lagi heboh sama foto yang awalnya di-upload sama siapa? Gatau. Yang jelas, foto ini udah nyebar kemana-mana soalnya udah banyak yang repath. Kok bisa gitu? Hmm, usut punya usut, ternyata foto ini bikin damai yang liat. Mau tahu mau tahu? Ini dia :)

indahnya kebersamaan

Keren ya :)

Sama-sama berpakaian dengan mengikuti aturan agama masing-mas…


Once You Started…

love

Oke, tanpa basa-basi, coba lihat gambar di bawah ini.

love

Apa yang blogger pikirkan setelah…


Pos Cinta, katanya

Hello guys. Apa kabar? Semoga dunia blogosphere masih baik-baik saja. Aku merindukan kalian semua nih. Jadi yaaa, aku memutuskan untuk ngeblog lagi. Haha, biasa, liburan. Kalo liburan ya begini ini jadinya. Ngeblognya jalan terus… sampe waktu liburan abis. Ahaha.

Oke, oke. Jadi sebenarnya, saya membawa berita. Itu, tentang programnya teman-teman blogger yang selalu mengantar surat cinta menjelang bulan Februari ini. Pernah denger kan? 30 Hari Menulis Surat Cinta. Pasti udah nggak asing lagi :)

Tadinya, aku pengen ikut mulai 2 tahun lalu. Aku juga lupa apa alasannya, aku ga jadi ikut di tahun-tahun sebelum ini. Akhirnya, semoga kesampaian, aku mau ikut tahun ini. Tadinya mau ikut Dua Hati juga, sih. Tapi itu program yang bisa diikuti sama sepasang kekasih rupanya, dan aku gabisa ikut karena alasan tertentu…

Nah, jadi katanya ada yang bakal nganterin surat cinta itu nantinya, siapa? Itu, mereka para tukang pos yang ada di Pos Cinta.

Jadi untuk sementara ini fokus nulis yang 30 Hari Menulis Surat Cinta aja deh ya. Buat yang mau ikutan, ke situs 30 Hari Menulis Surat Cinta aja langsung :) Nanti tinggal pilih mau ikutan program yang sama kaya alamat webnya, atau ikut Dua Hati bareng pacar, atau malah Sahabat PosCinta dan Surat Kaleng?
Selamat menulis. Semangat! ^_^


Rontgen

Itu, tulang yang agak dibawah bahu, di bagian punggung, di deket bagian yang nonjol, itu apa namanya? Oh, iya. Belikat, kata anak biologi. Tulang belikat, namanya. Baru inget. Kenapa sama tulang belikatku? Ada yang salah kayanya. Biasanya sih, di sebelah kanan. Sekarang, ini sakit di sebelah kiri. Sakit, apalagi kalo narik nafas. Ada yang salah sama tubuhku. Kemarin, kata abi disuruh rontgen kalo udah pulang. Aku bener-bener ga betah di Bogor sekarang ini. Sama kondisiku. Kondisi tubuh, kondisi hati, kondisi pikiran. Aku butuh pulang. Aku butuh rumah…

Sempet inget kemarin nangis-nangis gara-gara kesakitan -_- Maaf ya, orang tuaku sayang, aku ga pernah bermaksud buat bikin kalian kepikiran. Tapi aku gatau aku harus cerita sama siapalagi. Aku ga bisa cerita sama orang yang biasa aku ceritain. Maaf :”(

Kalo nanti udah pulang, aku pengen rontgen keseluruhan… boleh? Tulang telapak kaki kananku juga ada apa-apa nih. Ada yang salah, kalo ditekuk sakit. Sampe kapan ya aku numpuk penyakit? :| Perasaan, sembuh ini, sakit itu. Belum sembuh itu, sakit yang lain lagi. Alhamdulillah banget Allah percaya sama aku. Tapi gimana ya… :|

Aaaah, aku bener-bener pengen pulang. Aku bener-bener ga betah :(

Gara-gara aku ngomong ga jelas di telpon kemarin, ngadu soal ujian yang susah, ortu jadi mesenin tiket pulang cepet -_- Oke, ini diluar perkiraanku. Aku kira aku bakal pulang tanggal 20an. Hm. Berhubung aku ngejar baliknya adek ke Madura tanggal 18-19an, aku harus pulang cepet ke Jogja. Okelah. Aku iyain aja kata ortu, pulang tanggal 17. Terserah apapun yang terjadi, aku pulang. Aku ga betah disini lama-lama. Ga betah.


Iya, Inilah Hidup

Laptop mati, slide belum dapet, video untuk tugas ga nemu, dan alhasil, aku ga siap ujian. Videonya hih, gimana sih ini??? Hape ga mendukung buat ngenet setiap waktu, minjem laptop temen ternyata sama-sama gabisa buat ngenet… Jadilah aku ke warnet. Entahlah ini gimana nasibku di warnet siang (atau masih pagi?) ini. Aku pikir aku bakal ke warnet hujan-hujanan. Tapi Alhamdulillah, meskipun mendung, ternyata ga hujan. Ga paham. Hidup itu ajaib. Kadang “begini”, besoknya tiba-tiba udah “begitu” aja. Sama kayak orang. Eugh -_-

SUMPAH ini sedih banget gegara satu orang—yang gatau apa namanya—dan kamu bikin salah sama dia. Dan kamu gabisa ngelakuin sesuatu, semua hal, berhubungan dengan dia. Nyesek, tapi ya harus dijalanin. Dan aduuuh, aku gatau ini ngomong apa sekarang :(


Listening to My Happy Ending by Avril Lavigne

You are eveything, everything that i wanted~♬

Listening to My Happy Ending by Avril Lavigne

Preview it on Path


Kedinginan, pengen kaya hewan ini meluk2 tempat tidur :/

View on Path


Kabar Hari Ini

Hello, blogger. My lovely friends~
Apa kabar?
Dua hari ini aku kedinginan. Dari malem, sampe pagi. Siangnya baru bisa ngerasain suhu normal di jam satu duaan. Bener bener nyiksa, guys.
Juga, hari ini hari kedua aku ujian. Iya, di IPB sekarang lagi UTS. Berat kalo ngejalaninnya dalam keadaan gini. Kedinginan, luar dalem. Fisik iya, hati iya. Lagi, dadaku sering sakit dan bikin aku ga bisa napas tiba-tiba. Kadang di bagian kiri, kadang kanan. Tadi abis pulang ujian tiba-tiba aku harus nahan napas gara-gara kalo napas malah dada berasa ditusuk. Sakit, men. Bingungnya, tiap sakit pengen banget nyari penyebabnya yang dari dulu aku gatau kenapa. Maunya sih, nggugel. Tapi keywordnya apa? Itu dia aku gatau.
Sialnya, aku gabisa cerita sama orang lain tentang ini. Pada sibuk ujian, ngapain juga aku ngebebanin otak mereka yang harusnya dipenuhin sama mata kuliah-mata kuliah? Kan ga lucu kalo aku ngegantiin posisi mata kuliah itu di otak mereka..
Ada sih, satu orang penting yang mungkin ngedengerin..
Tapi ga jamin dia bakal ndengerin, aku ngerasa ga pantes buat cerita-cerita ke dia. Belakangan aku sering bikin kesalahan yang aku sendiri gatau kenapa, gabisa ngontrolnya. Iya, emosiku sering melecut sendiri ga keruan belakangan ini. Alasan kenapa aku gamau cerita sama dia…
Aaaaargghhh~
Betewe, ini dingiiinn~ >.<9


Bang Juned

Kalian tau apa arti Bank? Pasti tau, anak TK aja udah tau kok, kalo Bank itu tempat uang. Tempat nyimpen uang, maksudnya. Kalo “bang”? Udah pada tau kan? Err, aku ga berani jamin sih. Tapi kalo dia seorang blogger, kayaknya tau deh apa itu “bang” :D

ini abi, “bang juned”, waktu lagi niruin gaya kyai. huahaha lucu

Jadi, ceritanya ini aku masih di jalan, masih di perjalanan menuju Madura, pulau garam tercinta. Terlepas dari kasus Soledad, aku ngedengerin ayah sendiri ngelawak di mobil, sambil nyetir pastinya. Waktu itu udah sampe di Madura, tapi belom sampe di tujuan, Sumenep. Terus ayah bilang, “Itu Bank Jatim,” katanya. Aku noleh. “Ada Bank Jatim, ada Bank Jabar, ada Bank Jogja, ada Bang Juned…”

Oke. Buat yang nggak tau, Juned itu nama ayah. Namanya Junaidi. Dan Bang Juned itu…


Soledad

Pernah denger judul di atas kan? Itu judul lagu, mamen. Lagu siapa? Itu loh, boyband terkenal dari Irlandia. Yop, bener! Westlife. Haha, pasti

boyband westlife

pada tau. Itu boyband jadul yang anggotanya orang-orang cakep semua :grin: . Oke, lupakan soal personil. Kembali ke judul. Sampe sekarang, aku penasaran Soledad itu apa. Awalnya sih aku ga meduliin lagi itu sebutan, kosakata, atau sebuah nama. Sampe lagu itu ke-play lagi waktu aku sekeluarga lagi dalam perjalanan ke Madura. Iya, lagunya keputer di mobil, dan aku asik dengerin. Nah, waktu itu, Zie, adekku, nanya ke aku. Soledad itu apa sih? Waktu itu juga aku jadi ikut penasaran. Nah loh, balik lagi dah rasa penasarannya. Aku jadi sama penasaran kayak adekku.

Jadi Soledad itu apa…


Tentang Cinta Pertama

Itu tentang hal yang semua orang mungkin udah tau. Itu, yang katanya first love never dies. Aku gatau, ga pernah dan ga mau percaya. Bagiku, itu sama kayak rasa suka buat yang lain. Entahlah.

Hari ini, gatau gimana ceritanya, aku ketemu sama dia. Dia, yang aku anggap cinta pertamaku. Hahaha, umur berapa sih aku mengenal “cinta pertama”? Hahaha. Aku liat dia sekilas. Ga beda dari yang dulu, masih tetep aja. Mukanya masih keliatan arogan. Haha. Itu orang yaaa, udah nikah masih aja -_-
Iya, dia udah nikah. Menikah, tau kan? Pasti tau dong. Itu berita yang aku tau waktu aku baru masuk di awal perkuliahan. Ooh, begitu rasanya. Waktu itu, aku tau gimana rasanya kecewa. Bukan, bukan patah hati. Aku kecewa karena dia gak bilang sama aku, kalo dia nikah. Cewenya juga sama aja. Hahaha. Parah, parah. Padahal aku…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 101 other followers