share ur story, ur world, ur love !

Author Archive

Awalnya, Kita…

Ingat bagaimana dulu pertama kali kita ketemu?

Hehe. Aku masih gatau, kalau ternyata kamu kakak kelasku. Yang aku tahu, aku seneng karna dapet temen baru di IPB, dari satu daerah. Seneng banget. Gatau kalau ternyata kamu itu kakak kelasku, yang waktu itu jadi panitia penegak kedisiplinan yang harusnya ga dideketin… hihi.

Aku sempet nyari, dan ketemulah ini. Percakapan kita, pertama kali dulu. Yang, selalu, kalo kamu inget-inget pasti kamu ketawa. Dan itu pasti bikin aku malu sendiri. Tapi ya begini inilah dulu kita interaksi. Tanpa aku tahu akhirnya kita bisa bersama dari sini :D

conversationHahaha. Biasanya, kamu ketawa waktu inget ini.

Duh, aku kangen kamu. Beneran.


Skala Produktivitas

Produktivitas.

Satu kata yang menghantui saya, kalau saya mengaku saya menyukai dunia kepenulisan. Juga kalau saya mengaku saya mahasiswa…

Ada apa dengan kata ini?

Jujur, saya sedih. Sangat sedih jika mengingat produktivitas saya yang makin menurun setiap waktu. Saya sempat semangat lagi saat ada seseorang di samping saya, menemani saat saya susah, saat saya senang. Dia, bisa membuat saya semangat lagi untuk menulis. Untuk kembali produktif. Namun kemudian, saya sadari efeknya tidak lama. Saya butuh semangat dari sisi lain. Bukan hanya dia.

Nyatanya, saat saya pikir-pikir ulang, saya tetap lebih produktif saat saya belum bersama dia. Kemudian, produktivitas saya cukup menurun saat saya dengannya. Dan parahnya lagi, produktivitas saya semakin menurun tajam, saat dia benar-benar tidak ada di sisi saya. Tapi saya bisa apa? Skala produktivitas saya semakin memburuk, tapi saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya butuh sesuatu yang segar. Butuh refreshing. Butuh sesuatu yang baru untuk bisa saya tulis. Tapi saya tidak tahu, darimana saya dapat itu. Lagi-lagi, saya berpikir saya hanya butuh dia. Biasanya, kalau saya begini, dia mencoba memberi saya ide-ide baru atau pengembangan ide saya untuk ditulis. Masukannya sangat berarti buat saya. Dan dia, sepertinya tidak pernah menyadari itu…

 


Tentang Kesetiaan

Iya, awalnya saya memang tidak mau. Tapi pada akhirnya, saya memilih kamu. Iya, kamu. Kamu yang pertama, sekaligus terakhir untuk saya. Saya memilih untuk menerima apa adanya kamu, baik buruknya kamu. Kenapa? Karena kita bisa berubah menjadi lebih baik, bersama-sama.

Ada sesuatu, yang ada di diri kamu, yang tidak ada pada diri saya…

Itu, seperti sesuatu, bagian pada diri saya yang ada pada diri kamu, yang kalau kamu bawa saat bersama saya, bisa melengkapi hidup saya. Sesuatu, yang kalau ada kamu, segalanya bisa saya selesaikan sempurna. Karena tanpa kamu, yang saya lakukan hanya selesai setengah-setengah; separuh hilang. Separuh itu bisa teratasi saat kamu ada. Iya, kamu. Kalau kamu ada, kalau kita bersama, semua bisa selesai tepat sempurna. Tanpa kurang. Dan inilah, saya butuh ini sekarang. Saya butuh kamu, untuk melengkapi kekurangan saya, untuk melengkapi segalanya yang saya lakukan, yang sekarang jadinya cacat karena tanpa kamu. Saya butuh kamu.

Kamu memilih pergi.

Saya tahu, saya yakin, ini hanya sementara. Iya kan?

Saya yakin, kamu bukan orang yang seperti ini. Ada keyakinan yang besar dalam diri saya, bahwa kamu akan kembali. Kamu hanya sedang butuh waktu untuk sendiri, sedang butuh waktu untuk menyelesaikan sesuatu yang sepertinya benar-benar hanya harus kamu yang tahu, dan orang lain tidak. Termasuk saya. Saya yakin, kamu sedang membutuhkan waktu untuk berpikir sendirian, tanpa saya. Saya juga pernah begitu, meski saya tidak menceritakannya padamu. Meskipun saya agak berbeda denganmu, meskipun waktu yang saya butuhkan tidak se-lama yang kamu butuhkan…

Saya rindu.

Saya terlalu rindu.

Kamu tidak merasakan itu? Saya terlalu amat sangat rindu.

Kamu tahu saya sempat putus asa? Ya, kamu tahu. Pasti tahu. Tapi saya masih memegang keyakinan terbesar dalam diri saya. Saya yakin, kamu berbeda. Kamu bukan pembual. Kamu orang yang bertanggungjawab. Selalu, selama ini kamu begitu. Kamu berani meyakinkan saya, pasti kamu juga berani membuktikan pada saya. Kamu bukan orang yang mudah menyerah. Saya pun tidak mau segampang itu menyerah.

Saya tidak mau menyerah. Dulu, kamu juga begitu. Kan?

Itulah, saya masih setia. Seperti yang dari awal saya bilang :)


Someone Special

Ini tentang bagaimana kamu menjalani hari, dengan doa yang terbayang, doa yang pernah seseorang panjatkan untuk kebaikanmu. Doa yang begitu berarti, sampai saat ini..

ultahYa, sangat berarti.

Doa yang dipanjatkan oleh seseorang yang begitu spesial, dan saat ini kamu harus melihat dia jauh darimu. Bagaimana perasaanmu? Kacaukah?

Pribadi saya belum menjadi lebih baik ternyata, tahun ini. Dan yang saya inginkan untuk tercapai belum tercapai dengan indah pula tahun ini. Kita memang bicara masalah takdir. Kamu pasti ingat bahwa takdir bisa diubah selama manusia mau berdoa dan berusaha. Bahkan, doa yang hanya punya kapasitas 5%, bisa mengalahkan usaha yang 95%. Bagaimana bisa? Bisa saja. Itu kehendak Tuhan. Itu juga menurut guru agama saya. Tapi saya lupa dalilnya.

Seharusnya, kamu yang mendoakan saya, juga bantu untuk membuat saya menjadi lebih baik. Ada usaha juga di setiap doa. Bantu saya mencapai yang saya inginkan dengan indah tahun ini. Seharusnya…


One More Nightmare

Bagiku, ini mimpi buruk.

Masuk kemiliteran, dan ngeliat darah dimana-mana. Siapa yang ga takut coba?? -__-

Parahnya, aku dapet perintah langsung dari komandan, buat cari 4 orang yang mau ngerelain nyawanya. Daripada mereka ga punya tugas yang bisa mereka emban, mereka harus dimusnahkan. Empat orang ini harus mengajukan diri, sukarela. Bukan komandan yang nunjuk, apalagi aku. Masalahnya, begini, aku harus mengumumkan ke semua temen-temenku itu jam 5 tepat, dan saat itu ada pidato dari presiden. Entahlah, gimana caranya aku bisa nge-ganggu jalannya itu acara. Yang jelas aku harus ngumumumin dengan lantang, jam 5 tepat, dan harus ada yang mau ngerelain dirinya. Serem, soalnya di sepanjang aku bertugas, aku deg-degan setengah mampus, takut sama resiko yang bakal aku hadepin. Apa coba? Pertama, kalo aku ngumuminnya lebih dari jam 5 barang satu menit, aku yang bakal dihabisi. Aku yang bakal mati: ditembak mati. Sama komandan langsung. Kedua, kalau ga ada yang mau ngerelain dirinya, aku juga harus mati. Entahlah, pikiranku campur aduk, antara mau ngganggu jalannya pidato si presiden atau aku yang bakal mati sia-sia di tempat, di hadapan teman-temanku sekalian.

Beruntung, aku bisa dengan tegas ngumumumin jam 5 tepat versi jam tangan bapak komandan, juga berhasil dapet 4 sukarelawan yang mau ngorbanin dirinya. Aku ngerasa bersalah…

Sayangnya, sebelum mereka berempat mati, ada darah yang netes dari tribun di tempat temen-temenku semua itu berdiri. Ada darah yang netes diantara mereka berempat, tapi bukan dari mereka berempat itu. Aku panik. Itu darah siapa yang ngalir? Darah siapa yang bisa-bisanya netes sampe bawah? Semuanya panik. Termasuk komandan yang ternyata juga gatau.

Tepat saat aku hampir tahu itu darah siapa, aku kebangun dari tidurku…

Aku masih inget dengan jelas mimpiku yang satu ini sampe aku kebangun. Rasanya nyata banget. Horor, sehoror-horornya. Aku kebangun dengan mata melotot dan tanganku yang sedekap. Sampe sekarang, aku masih inget gimana mimpinya, gimana takutnya… karna itu kerasa bukan mimpi. Seolah aku bener-bener ngalamin. Tau-tau, jadinya aku malah gabisa tidur lagi. Ga bisa. Itu terlalu horor…


Aku, Aka, Sapi

Aku gatau sebenernya lagi nulis apa. Gatau.
Mungkin ini lebih dari gila, lebih dari sebuah ketidakwarasan. Aku udah ada di atas normal.
Ada semacam kehampaan setiap aku melakukan sesuatu hal. Terutama pada hal yang biasa aku lakukan berkaitan dengan dia. Itu, sapi. Sapi kesayanganku.
Aku bukan ingin bergantung padanya, tapi… tapi ada bagian diriku yang ada pada dirinya. Ada bagianku yang hilang saat dia ga ada. Aku ga tau. Tapi aku sedih, lebih dari sedih. Sejak kapan juga aku gatau, aku mulai suka nangis waktu sendiri. Nggak, nggak. Bahkan saat aku di jalan pulang sendiri, lagi ngojek, lagi belajar, lagi di depan laptop, lagi nonton, lagi dengerin lagu, lagi kuliah… itu bisa jadi waktu yang pas buat aku nangis tiba-tiba. Ga ada yang salah sama aku. Tapi hatiku lagi rusak. Butuh direparasi. Tapi peralatannya ada di dia, sapiku yang manis.
Parahnya, aku juga ga bisa ngira aku bakal begini. Pikiranku kosong tiap waktu, bengong tanpa tahu sebenernya aku lagi mikirin apa. Memang apa? Aku ga mikirin apa-apa. Tiba-tiba kosong. Nangis. Menjadi.
Tiba-tiba aku ingin sesuatu. Aku ingin sesuatu yang bisa aku pegang, aku ingin ada sesuatu yang bisa aku buat bersandar. Mataku udah ga tertolong. Udah kayak apa juga gatau gara-gara nangis tiap waktu. Aku ga bisa ngontrol pikiranku. Bener, ini ada yang salah. Aku butuh bagianku yang hilang buat memperbaiki ini semua.
Parah.
Tiba-tiba nangis waktu lagi dengerin dosen, tiba-tiba nangis waktu pulang gara-gara ngeluarin kunci kosan yang ada gantungan kunci kita yang sama, tiba-tiba nangis kalau harus nulis, dan abis itu pasti ngeblank otaknya. Bener-bener ga tertolong. Aku dihujat diriku sendiri. Pikiran ingin mati selalu ada tiap hari. Sampai ingin, saat melintas menyebrang jalan menunggu mobil yang lewat, aku ingin menyebrang saat mobil belum sempat berlalu. Aku frustasi setengah mati. Bangun tidur nangis, mau tidur nangis. Ga nafsu makan. Badanku meriang lagi hampir tiap malam. Ada obat yang ga diminum karena udah ga tau pikiran kemana. Aku bener-bener ga waras. Terus mau apa? Kalau di kamar sendiri malah cuma bisa mandang Aka, boneka sapi kecil yang ga pernah senyum. Dulu, kamu yang bilang, Aka selalu sedih. Tapi, aku tahu aku bisa selalu senyum kalau kamu ada di samping Aka. Sekarang, tanpa kamu, aku bener-bener sedih, berdua dengan Aka. Karena kamu belum juga kembali.
Beberapa malam, tidurku ga nyenyak. Tahu kan, indikasi kamu tidur nyenyak? Kamu ga akan mimpi atau melihat apapun dalam tidurmu. Hanya gelap, hanya tahu kamu sadar kembali saat terbangun. Tapi aku, mimpi kamu…
Kamu yang dulu, kamu yang senyum dan ketawa bahagia. Kamu yang lucu, yang bahkan bisa buat aku ketawa meskipun lagi kesel sama kamu. Dan aku, ternyata ga pernah bisa bersikap kayak gitu buat kamu…
Aku kangen kamu…
Sampai sekarang, aku cuma bisa berdoa, semoga aku ga bosan berdua dengan waktu, untuk bisa tetap menunggu sampai kamu kembali. Biar kamu tahu, aku masih setia.


Tugas Perilaku Konsumen

Maghfiroh Al-Fajriyah mahasiswa

Silvikultur,

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

 

Kuliah Perilaku Konsumen Feb – Juni 2014

Dosen:

Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc

Dr Ir Lilik Noor Yuliati, MFSA

Ir. MD Djamaluddin, MSc

Ir. Retnaningsih, MS

 

Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Edisi 2 Cetakan 1. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

cover handout perilaku konsumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan Kuliah Pertama

 

Saya Maghfiroh Al-Fajriyah mahasiswa Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Pada hari Rabu, 19 Februari 2014 saya mengikuti kuliah Perilaku Konsumen sebagai SC, dan kebetulan saya mengambil mata kuliah tersebut pada saat KRS-B. Kuliah ini disampaikan oleh dosen yang ahli di bidangnya, yaitu Ir. MD Djamaluddin, MSc. Menurut beberapa teman saya yang saya tanya pendapatnya, dosen penyampai materi Perilaku Konsumen pada pertemuan sebelumnya (pertemuan pertama kuliah Perilaku Konsumen) berbeda dengan dosen yang mengisi pertemuan kuliah pertama saya, yaitu Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc. Beliaulah yang menulis buku dengan judul Perilaku Konsumen yang dijadikan sebagai buku pegangan untuk mahasiswanya.

Mata kuliah ini sangat menarik karena mempelajari segala hal tentang konsumen, yakni kebiasaan-kebiasaannya, hal yang mempengaruhi keputusannya, dan semua hal yang berkaitan dengan konsumen. Masing-masing konsumen memiliki motivasi dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga mereka akan memenuhinya dengan cara-cara yang berbeda pula. Motivasi yang mempengaruhi konsumen dapat berasal dari luar diri konsumen dan dapat pula berasal dari dalam diri konsumen tersebut. Motivasi itu sendiri adalah dorongan yang timbul karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi oleh konsumen. Kebutuhan yang tidak terpenuhi ini akan menimbulkan tekanan (tension) yang membuat konsumen tersebut merasa tidak nyaman. Teori kebutuhan ini menggunakan beberapa teori dari para pakar perilaku konsumen, seperti teori Maslow dan teori McClelland. Dalam teorinya, Maslow mengungkapkan tiga hal mengenai teori kebutuhan, yaitu kebutuhan sosial, kebutuhan ego, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan sosial ini seperti kebutuhan akan menikah, kemudian kebutuhan ego adalah kebutuhan untuk menjadi sesuatu yang diinginkan, serta kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjadi seseorang yang dapat membuktikan sesuatu atas potensi yang konsumen tersebut miliki. Namun sayangnya, Maslow sendiri pernah menyesali teorinya sendiri karena adanya kesalahan penggunaan pada teorinya. Sedangkan pada teori McClelland, McClelland juga membagi teori kebutuhan menjadi tiga, yakni kebutuhan sukses (achievement), kebutuhan afiliasi (affiliation), dan kebutuhan kekuasaan (power).

Kemudian, kepribadian konsumen yang juga berbeda-beda, dapat menjadikan konsumen memilih suatu produk berbeda-beda pula. Hal ini dikarenakan perbedaan kepribadian tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk. Kepribadian itu sendiri memiliki arti sebagai karakteristik psikologis yang paling dalam pada diri konsumen. Kepribadian ini akan mempengaruhi tingkah laku konsumen, dimana nantinya konsumen akan memberikan reaksi yang selalu sama dalam menghadapi sesuatu, atau bisa dibilang merupakan respon konsisten seseorang terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian ini akan menunjukkan konsistensi konsumen dalam melakukan sesuatu, seperti dalam memilih suatu produk. Namun, kepribadian pada diri konsumen dapat berubah saat konsumen berada dalam keadaan yang mendesak.


Even paling bikin ngakak. Malu-maluin. – at Auditorium GMSK FEMA IPB

View on Path


Bagimu, Peluk

Halo.
Bagaimana keadaanmu hari ini?
Belakangan ini aku merasa sangat beruntung, aku bisa berjalan ke kampus–juga kembali ke rumah dengan aman. Tanpa basah-basah. Tanpa perlu terkena hujan. Bagaimana denganmu?
Ah, iya. Ngomong-ngomong tentang hujan, ingat tidak? Saat kita berdua hanya bisa terdiam memandangi hujan, lalu kita terpaku bertatap dengan air hujan yang berjatuhan..
Saat itu, masing-masing dari kita menggigil dan tanpa harus bicara, kita saling mengerti. Bahkan meaki kita tak mau, kita bisa saling berpeluk. Tanpaku, kau hanya bisa memeluk waktu, sampai hujan berhenti.
Saat itu, juga, kamu berkata padaku, “Memelukmu, membuatku merasa tenang…”
Kamu bilang, kamu akan memelukku saat kau merasa gundah, khawatir terhadap semua hal yang harus kau khawatirkan. Padahal, hanya dengan melihat hujan saja kau harusnya tenang… kan?
Lalu bagaimana bisa kau masih ingin berpeluk? Inginkan ketenangan seperti apa lagi?
Dan..
Sebenarnya, aku penasaran sejak dulu. Bagimu, apa artinya peluk?


Bola, Hello Kitty, dan Cinta Terpendam

Dear kamu,
Selamat ulang tahun.

Halo. Maaf aku terlambat dua hari mengirimkan surat ini. Kalau tidak salah, aku sedang sakit saat itu. Mau bagaimana lagi?

Ah. Iya. Selamat ulang tahun. Selamat mengulang hari, mengenang dirimu sejak yang dahulu. Apa, ya. Aku bingung harus bicara apa. Tapi, ya itu tadi. Aku cuma bisa mendoakan kamu, semua yang baik untuk kamu.

Kamu, semoga bisa move on dari bola, dari arema, suatu saat nanti. Habis, gimana ya. Kamu tuh, aneh sih. Kamu suka bola, pecinta arema, suporter setia, dan mencintai para pemain-pemainnya…


Hai, Adik Kecil

anak kecil di warnet

anak kecil di warnetHalo, adik kecil. Kulihat dirimu begitu khusyu’ saat aku duduk di depanmu. Ya, tepat di depanmu. Kupandangi dirimu, sedih, sayang. Bagaimana bisa anak sekecil dirimu berada di warnet sendirian? Aku kira kau perlu duduk disana didampingi orang tuamu, tapi saat aku lihat sekitar… tak ada siapapun. Lagi-lagi aku hanya bisa bilang, bagaimana bisa?

Aku menghela napas panjang.

Masih memandangimu, aku penasaran. Apa yang kamu cari disini? Apa yang kau tonton hingga kau bisa sebegitu khusyuknya? Apa, sayang? Seandainya aku bisa mendekatimu…

Tapi aku tak bisa. Bagaimana jika aku dikira akan menculikmu? Bagaimana jika nantinya aku yang dikira membawamu kesini? Aduh, aku tak tahu harus apa. Lalu, bagaimana?

Entahlah.

Adik kecilku sayang, aku harap, kamu tidak mencari sesuatu yang tidak seharusnya kamu cari. Semoga. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sampai nanti, sampai umurmu terus bertambah, kau akan tetap…


Rindu Terlampir

Selamat sore, cinta.
Bersama surat ini, aku lampirkan rinduku didalamnya. Oh, iya. Aku punya cerita. Dua hari yang lalu, aku jatuh sakit. Harusnya kau tahu, iya kan? Iya. Bukan mau menyalahkan keadaanku ketika itu karena aku tak bisa menulis surat, bukan. Tapi karena aku, apa ya istilahnya, tepar, mungkin istilahnya, aku benar-benar tak bisa menulis surat ini. Dua hari aku terbaring, memikirkan keadaanku tanpa dirimu. Seandainya kemarin kau berjaga di sampingku…
Selama itu, aku berpikir, bagaimana jika selama aku tak menulis surat, kau menggantikanku? Kau tulis surat untukku, yang terbaring lemah dan tak tahu harus apa. Ah, tapi sekarang aku sudah sembuh. Kau harus ikut senang ya.
Ah, iya. Lupa kutanya. Dirimu apa kabar? Jangan sibuk-sibuk ya, aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Terlalu merindukanmu.
Salam sayang, semoga kau selalu baik-baik saja. Sakit itu nggak enak, lho.


Buta Cinta, Bukan Cinta Buta

Ini tentang aku. Ya, aku. Seorang yang memiliki perasaan, yang kata orang itu adalah cinta. Kukira aku mencintai seseorang sebegitu dalamnya, dan aku tak tahu mengapa aku bisa mencintainya. Tapi, bukankah memang seperti itu cinta? Ya, kukira. Itu cinta.

Aku tidak memiliki masalah dengan orang lain, mengenai cinta itu. Hanya, sepertinya orang lain melihatku seperti seorang yang buta cinta. Mereka mengira aku tak tahu menahu apa itu cinta. Memang apa? Sebodoh itukah aku? Atau aku terlalu pintar…


Surat dari Lelaki yang Mencoba Setia

Selamat sore, hai kamu yang dulu menganggapku pelarianmu.

Apa kabar? Masih betah duduk bersamaku di alam kita, yang hanya kita yang tahu? Jangan merasa tidak betah, ya. Aku saja tidak pernah begitu. Bagaimana mungkin kau bisa?

Oh iya, aku dengar kemarin…


Dari Otak Untuk Lambung

Selamat sore, hai kamu. Masih sakitkah? Sudah kubilang, jangan biarkan dirimu tersiram sambal berlebihan. Tidakkah kau meminta mulut agar berhenti memasukkan sambal dalam dirinya?
Mengertilah…


Kepada Bapaknya Rakyat

Kepada Bapaknya Rakyat,

Di Istana Negara.

 

Assalamua’alaikum wr. wb.,

Bapak Presiden, apa kabar? Ketika menulis surat ini, saya penasaran, sedang apa bapak disana? Pasti sedang sibuk, mengunjungi korban bencana Gunung Sinabung, atau sedang membantu menghilangkan rasa sedih para korban banjir Jakarta, sehingga mungkin bapak tidak sempat membaca surat ini. Tapi, tidak apa-apa. Saya tahu bapak tidak hanya mendapat satu surat ini karena memang bapak adalah orang penting, dan saya tidak berhak marah-marah karena saya warga negara yang baik dan memaklumi kesibukan bapak.

Jadi begini, bapaknya rakyat Indonesia. Sebenarnya saya tidak bisa menulis surat yang baik. Juga, sebenarnya saya harus menulis untuk selebtwit, sebuah surat cinta. Saya tidak mengenal dengan baik selebtwit yang saya follow di twitter, saya juga tidak tahu apa nantinya surat saya itu benar-benar ingin saya tujukan kepada mereka. Akhirnya, saya memutuskan menulis surat cinta itu untuk bapak saja, meskipun saya tidak benar-benar yakin bapak adalah seorang selebtwit. Bagaimana menurut bapak? Bolehkah saya bertanya, “Apakah bapak merasa bapak seorang selebtwit?”

Ah, sudahlah. Maafkan saya ya pak, kalau saya membingungkan. Maafkan juga kalau pada akhirnya, saya curhat sama bapak. Saya rakyat baik-baik, kok, pak. Beneran. Mungkin karena saya orang baik-baik itu, pada awalnya saya ingin menulis surat untuk seorang pengacara yang terkenal karena sering berkicau di twitter. Ehm, kalau bapak belum tahu, namanya Farhat Abbas. Tapi, pak, karena saya sayang sama dia, saya urung mengirim surat untuknya. Kasihan dia, pak. Dia mungkin terlalu sayang dengan orang-orang di sekitarnya, jadi semua dia beri masukan menurut opini dia. Kalau suatu saat dia membicarakan bapak, atau istri bapak, atau siapapun keluarga bapak, bagaimana tanggapan bapak? Jangan ditanggapi dengan emosi ya, pak, saya tahu bapak orangnya bijak. Dan semoga jika suatu saat itu terjadi, semoga bapak, atau istri bapak, atau siapapun keluarga bapak, dibicarakan dengan cara yang tidak sama dengan mereka yang sebelum ini dia bicarakan. Percayalah, pak, kalau dia melakukan itu, berarti dia sayang sama bapak.

Astaghfirullah. Maafkan saya, bapak. Saya tidak bermaksud menjadi sama seperti dia karena membicarakan orang lain. Bukan, pak. Bapak masih percaya saya orang baik-baik kan? Percayalah bahwa saya peduli padanya dan sayang, sehingga dia merasa disayangi dan berbalik menyayangi pada warga negara yang lain. Tapi dibanding sama dia, saya lebih sayang sama bapak. Sungguh. Ini karena bapak dan dia berbeda; perjuangan bapak jauh lebih banyak dari dia. Bukankah tidak mudah untuk menjadi presiden, pak? Bapak harus mendengar rakyat, dan mewakili mereka demi negara ini. Apalagi, kalau bapak sampai harus ke luar negeri. Saya yakin, bapak berusaha keras bagaimana negara ini baik di mata negara lain, dengan membela dan menjaga harga diri negara ini. Sungguh, saya bangga. Saya berharap, bapak tidak mengecewakan saya, juga yang lainnya. Bapak ini, salah satu yang terbaik, lho.

Mmm, ternyata surat yang saya tulis ini banyak ya pak. Saya masih memaklumi kalau bapak tidak sempat baca surat ini. Tapi kalau sempat, sungguh, terima kasih banyak. Saya bukan penulis surat yang baik pak. Tapi kalau bapak bisa sampai tidak bosan saat membaca ini (sekali lagi kalau sempat), saya benar-benar berterima kasih, sebanyak-banyaknya, selebih-lebihnya.

Terimakasih, bapaknya rakyat, @SBYudhoyono.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

Salam sayang anak negerimu,

@viradiplantae


Mungkin Seperti Kiamat

Hai. Apa kabar? Sudah lama kita tak bicara sejak kita memutuskan untuk saling diam. Sekarang bagaimana aku di matamu, strataku di hatimu? Masih yang kau bilang, aku yang terakhir?

Ehm. Mungkin seperti kiamat.

Kiamat kan, yang terakhir di dunia ini. Tak ada lagi, tak akan pernah, ada yang lainnya setelah kiamat. Termasuk masa aktifmu mendiami dunia ini. Kecuali jika…


Kenal, Maka Sayang

love-letter

love-letterSelamat sore, kamu. Maaf aku lancang mengirim surat ini. Tapi karena aku mengenalmu, anggap saja ini hadiah untukmu.

“Tak kenal maka tak sayang,” katanya. Pernah dengar? Aku tak perlu mengatakan separuh setuju dengan pernyataan itu, meski awalnya begitu. Aku kira, hanya dengan aku melihat sekilas pada seseorang, aku bisa saja menyukainya. Seperti, mungkin, sebuah lagu. Aku mencintaimu meski tak pernah tahu tentangmu. Atau yang lebih ekstrim, aku mencintaimu sebelum aku mengenalmu. Bagaimana bisa? Kupikir, bisa saja.

Tapi…

Aku pikir, aku salah dengan diriku sendiri. Aku terbiasa menerima semua hal yang aku pikirkan, tanpa ingin menyalahkan diri sendiri. Saat ini, berani-beraninya aku menolak argumenku yang mengatakan bahwa segalanya serba mungkin, termasuk dalam mencintai…


Selamat (Ber)malam Minggu, Cinta

bulanSelamat malam, cinta. Bagaimana kabarmu hari ini? Masihkah kau berkutat dengan jadwalmu yang tak pernah tak sibuk? Aku disini tak lelah menanti, tak akan lelah berdoa. Lihat dirimu, semakin jauh untuk aku capai. Mungkin seperti bulan. Kau begitu jauh, namun sekaligus begitu dekat. Sebegitu jauhnya, karena aku tak tahu sekarang dimana dirimu. Sedang mencari jalan keluarkah dari lubang gelap bernama gua? Sedang melihat burung-burung menyeberangi langitmu? Atau sedang beristirahat karena besok hari Minggu? Ah, aku tak tahu bagaimana aku bisa mengatakan besok hari Minggu dan kau tak memiliki hal untuk dilakukan. Maafkan aku, aku lupa…


Cinta dan Kesabaran

You

Ini cerita bagaimana cinta bisa membuatmu menjadi lebih sabar. Cinta yang berposisi sebagai guru, sebagai pengajar. Kita bisa tahu bagaimana menerima orang lain, menunggu lebih lama, belajar memahami. Mengerti tentang pribadi seseorang, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Itu adalah bagaimana kamu bisa menyadari, bahwa kamu masih bisa memaklumi…

Begini kisahnya…


Persahabatan Lintas-Agama

Jujur, ini aku tulis bukan tanpa maksud. Ya, emang bukan tanpa maksud sih, tapi emang ini aku tulis karna aku abis baca berita tentang ini dan emang lagi heboh dibicarain. Ih, emang apa sih?

Nah, jadi gini, di Path itu lagi heboh sama foto yang awalnya di-upload sama siapa? Gatau. Yang jelas, foto ini udah nyebar kemana-mana soalnya udah banyak yang repath. Kok bisa gitu? Hmm, usut punya usut, ternyata foto ini bikin damai yang liat. Mau tahu mau tahu? Ini dia :)

indahnya kebersamaan

Keren ya :)

Sama-sama berpakaian dengan mengikuti aturan agama masing-mas…


Once You Started…

love

Oke, tanpa basa-basi, coba lihat gambar di bawah ini.

love

Apa yang blogger pikirkan setelah…


Pos Cinta, katanya

Hello guys. Apa kabar? Semoga dunia blogosphere masih baik-baik saja. Aku merindukan kalian semua nih. Jadi yaaa, aku memutuskan untuk ngeblog lagi. Haha, biasa, liburan. Kalo liburan ya begini ini jadinya. Ngeblognya jalan terus… sampe waktu liburan abis. Ahaha.

Oke, oke. Jadi sebenarnya, saya membawa berita. Itu, tentang programnya teman-teman blogger yang selalu mengantar surat cinta menjelang bulan Februari ini. Pernah denger kan? 30 Hari Menulis Surat Cinta. Pasti udah nggak asing lagi :)

Tadinya, aku pengen ikut mulai 2 tahun lalu. Aku juga lupa apa alasannya, aku ga jadi ikut di tahun-tahun sebelum ini. Akhirnya, semoga kesampaian, aku mau ikut tahun ini. Tadinya mau ikut Dua Hati juga, sih. Tapi itu program yang bisa diikuti sama sepasang kekasih rupanya, dan aku gabisa ikut karena alasan tertentu…

Nah, jadi katanya ada yang bakal nganterin surat cinta itu nantinya, siapa? Itu, mereka para tukang pos yang ada di Pos Cinta.

Jadi untuk sementara ini fokus nulis yang 30 Hari Menulis Surat Cinta aja deh ya. Buat yang mau ikutan, ke situs 30 Hari Menulis Surat Cinta aja langsung :) Nanti tinggal pilih mau ikutan program yang sama kaya alamat webnya, atau ikut Dua Hati bareng pacar, atau malah Sahabat PosCinta dan Surat Kaleng?
Selamat menulis. Semangat! ^_^


Rontgen

Itu, tulang yang agak dibawah bahu, di bagian punggung, di deket bagian yang nonjol, itu apa namanya? Oh, iya. Belikat, kata anak biologi. Tulang belikat, namanya. Baru inget. Kenapa sama tulang belikatku? Ada yang salah kayanya. Biasanya sih, di sebelah kanan. Sekarang, ini sakit di sebelah kiri. Sakit, apalagi kalo narik nafas. Ada yang salah sama tubuhku. Kemarin, kata abi disuruh rontgen kalo udah pulang. Aku bener-bener ga betah di Bogor sekarang ini. Sama kondisiku. Kondisi tubuh, kondisi hati, kondisi pikiran. Aku butuh pulang. Aku butuh rumah…

Sempet inget kemarin nangis-nangis gara-gara kesakitan -_- Maaf ya, orang tuaku sayang, aku ga pernah bermaksud buat bikin kalian kepikiran. Tapi aku gatau aku harus cerita sama siapalagi. Aku ga bisa cerita sama orang yang biasa aku ceritain. Maaf :”(

Kalo nanti udah pulang, aku pengen rontgen keseluruhan… boleh? Tulang telapak kaki kananku juga ada apa-apa nih. Ada yang salah, kalo ditekuk sakit. Sampe kapan ya aku numpuk penyakit? :| Perasaan, sembuh ini, sakit itu. Belum sembuh itu, sakit yang lain lagi. Alhamdulillah banget Allah percaya sama aku. Tapi gimana ya… :|

Aaaah, aku bener-bener pengen pulang. Aku bener-bener ga betah :(

Gara-gara aku ngomong ga jelas di telpon kemarin, ngadu soal ujian yang susah, ortu jadi mesenin tiket pulang cepet -_- Oke, ini diluar perkiraanku. Aku kira aku bakal pulang tanggal 20an. Hm. Berhubung aku ngejar baliknya adek ke Madura tanggal 18-19an, aku harus pulang cepet ke Jogja. Okelah. Aku iyain aja kata ortu, pulang tanggal 17. Terserah apapun yang terjadi, aku pulang. Aku ga betah disini lama-lama. Ga betah.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 871 other followers